Bank Sentral AS Tahan Suku Bunga, Pasar Tunggu Arah Kebijakan Selanjutnya

Avatar photo

- Penulis Berita

Kamis, 29 Januari 2026 - 09:08 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Suku bunga referensi rata-rata di AS antara 1995 dan 2025. Grafik: Reuters

Suku bunga referensi rata-rata di AS antara 1995 dan 2025. Grafik: Reuters

Bank Sentral Amerika Serikat memutuskan untuk menahan suku bunga acuannya pada pertemuan kebijakan moneter pertama tahun ini, sejalan dengan ekspektasi mayoritas pelaku pasar. Keputusan tersebut diambil setelah Federal Reserve menuntaskan rapat dua hari yang berakhir pada 28 Januari.

Dalam keputusan resminya, The Fed mempertahankan suku bunga di kisaran 3,5 hingga 3,75 persen. Langkah ini diambil setelah bank sentral melakukan penyesuaian kebijakan moneter sebanyak tiga kali sepanjang tahun lalu. Sejumlah pejabat The Fed sebelumnya menyampaikan keinginan untuk menunggu dampak kebijakan terdahulu sebelum mengambil langkah lanjutan.

Dalam pernyataannya, The Fed menyebut aktivitas ekonomi Amerika Serikat masih tumbuh dengan laju yang solid. Di sisi lain, inflasi dinilai masih menunjukkan percepatan, sementara pasar tenaga kerja mulai memperlihatkan tanda-tanda stabilisasi.

Meski pertumbuhan lapangan kerja dinilai melambat, The Fed tidak lagi menekankan adanya peningkatan risiko terhadap pasar tenaga kerja. Hal ini mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan semakin yakin bahwa pelemahan pasar kerja tidak akan berlangsung secara tajam.

Respons pasar keuangan relatif terbatas usai pengumuman tersebut. Pada penutupan perdagangan 28 Januari, indeks S&P 500 sempat menyentuh level 7.000 poin sebelum akhirnya ditutup melemah tipis. Dow Jones Industrial Average bergerak datar, sementara Nasdaq Composite mencatat kenaikan ringan.

Di pasar komoditas, harga emas kembali mencuri perhatian dengan lonjakan tajam. Emas spot melonjak sekitar USD 235 dan ditutup di level USD 5.414 per ons, sebelum melanjutkan penguatan hingga mendekati USD 5.585 per ons pada sesi berikutnya.

Menjelang pertemuan kebijakan, para pejabat The Fed menilai kondisi pasar tenaga kerja relatif seimbang. Perlambatan pertumbuhan lapangan kerja dinilai sejalan dengan jumlah pencari kerja yang juga tumbuh lebih lambat, sebagian dipengaruhi kebijakan pengetatan imigrasi pemerintahan Presiden Donald Trump. Tingkat pengangguran AS tercatat turun menjadi 4,4 persen pada Desember.

The Fed tidak memberikan petunjuk waktu pasti terkait kemungkinan penurunan suku bunga ke depan. Bank sentral menegaskan bahwa setiap keputusan selanjutnya akan sepenuhnya bergantung pada perkembangan data ekonomi dan prospek inflasi yang masuk.

Keputusan mempertahankan suku bunga tersebut tidak disepakati secara bulat. Dua pejabat, yakni Christopher Waller dan Stephen Miran, menyatakan perbedaan pendapat dengan mendorong pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin. Waller disebut sebagai salah satu kandidat kuat pimpinan The Fed berikutnya, sementara Miran merupakan nominasi Presiden Trump untuk sementara menduduki kursi Dewan Gubernur.

Pertemuan ini juga berlangsung di tengah sorotan terhadap independensi The Fed. Dalam beberapa pekan terakhir, Mahkamah Agung AS membahas gugatan yang melibatkan anggota Dewan Fed Lisa Cook, terkait dugaan penipuan hipotek dan potensi kewenangan presiden untuk memberhentikannya.

Selain itu, Ketua The Fed Jerome Powell baru-baru ini merilis pernyataan publik yang jarang dilakukan sebagai respons atas tekanan politik dari Gedung Putih. Powell menyebut dirinya tengah diselidiki jaksa federal terkait kesaksiannya mengenai proyek renovasi kantor pusat The Fed di Washington.

Pertemuan kebijakan ini menjadi salah satu dari tiga pertemuan terakhir yang dipimpin Powell sebelum masa jabatannya berakhir pada 15 Mei. Presiden Trump disebut berpeluang mengumumkan calon pengganti Ketua The Fed dalam waktu dekat.

Berita Terkait

Krisis Minyak Global Pacu Adopsi Mobil Listrik dan Evaluasi Subsidi Kendaraan
Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan Distribusi Energi dan Pengenaan Tarif Kapal
Negara Barat dan Aliansi NATO Tetapkan Status Siaga Tinggi Hadapi Ketegangan Global
Amerika Serikat Terancam Kehabisan Stok Senjata Akibat Konflik Global yang Berkepanjangan
Rusia dan Negara Strategis Ubah Kebijakan Ekonomi Serta Militer Hadapi Gejolak Dunia
Hari Malaria Sedunia 25 April Kembali Soroti Tantangan Kesehatan Global Terbaru
Israel Tetap Serang Lebanon Meski Kesepakatan Gencatan Senjata Mulai Berlaku
Palestina Gelar Pemilu Lokal Perdana Pasca Perang di Tengah Ketegangan Tinggi

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 19:33 WIB

Krisis Minyak Global Pacu Adopsi Mobil Listrik dan Evaluasi Subsidi Kendaraan

Sabtu, 25 April 2026 - 18:05 WIB

Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan Distribusi Energi dan Pengenaan Tarif Kapal

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Negara Barat dan Aliansi NATO Tetapkan Status Siaga Tinggi Hadapi Ketegangan Global

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Amerika Serikat Terancam Kehabisan Stok Senjata Akibat Konflik Global yang Berkepanjangan

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Rusia dan Negara Strategis Ubah Kebijakan Ekonomi Serta Militer Hadapi Gejolak Dunia

Berita Terbaru

Alternatif Bahan Bakar Selain

Berita

Alternatif Bahan Bakar Selain Pertamina Dex Terbaru 2026

Senin, 4 Mei 2026 - 20:42 WIB