Malaysia Perketat Aturan Kendaraan Impor, Pemerintah Tegaskan Tak Mau Jadi “Tempat Pembuangan” Mobil Murah

Avatar photo

- Penulis Berita

Minggu, 8 Februari 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Datuk Seri Johari Abdul Ghani, Menteri Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia. Foto oleh Paultan

Datuk Seri Johari Abdul Ghani, Menteri Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia. Foto oleh Paultan

Pemerintah Malaysia menyatakan ingin memperketat masuknya kendaraan impor yang dinilai hanya mengandalkan harga murah. Menteri Investasi, Perdagangan dan Industri Malaysia menegaskan negaranya tidak ingin menjadi “tempat pembuangan” bagi kendaraan berkualitas rendah, meski persaingan merek baru di pasar bisa memberi lebih banyak pilihan bagi konsumen.

Menurut pernyataan yang disampaikan dalam sebuah agenda peluncuran produk, pemerintah menilai setiap merek baru seharusnya membawa nilai tambah, bukan sekadar masuk karena harga murah. Malaysia juga disebut ingin memastikan pertumbuhan industri otomotif dibangun di atas teknologi yang baik, sekaligus memberi manfaat pada ekonomi lokal.

Pernyataan tersebut muncul seiring berlakunya aturan baru yang disebut efektif mulai 1 Januari 2026. Dalam ketentuan itu, kendaraan listrik impor utuh (CBU) yang baru pertama kali masuk pasar Malaysia dikabarkan harus memenuhi ambang harga minimum 250.000 ringgit, serta kapasitas gabungan minimal 200 kW.

Ambang baru ini disebut lebih tinggi dibanding ketentuan sebelumnya yang berada pada level 100.000 ringgit, yang sempat berlaku dalam periode kebijakan tertentu. Dengan perubahan itu, hanya model-model yang telah mendapatkan persetujuan sebelum 31 Desember 2025 yang disebut masih bisa mengikuti ketentuan lama.

Di sisi industri, asosiasi otomotif setempat dikabarkan masih berkoordinasi dengan kementerian terkait untuk memperjelas detail penerapannya. Namun, arah kebijakannya dinilai jelas: Malaysia ingin mendorong manufaktur dan perakitan dalam negeri (CKD) dibanding hanya menjadi pasar untuk unit impor utuh.

Pemerintah berharap pendekatan ini dapat menyeimbangkan kepentingan konsumen dan perlindungan industri. Fokusnya bukan hanya menghadirkan harga bersaing, tetapi juga memastikan kualitas, teknologi, dan dampak ekonomi yang lebih sehat bagi pasar domestik.

Berita Terkait

Krisis Minyak Global Pacu Adopsi Mobil Listrik dan Evaluasi Subsidi Kendaraan
Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan Distribusi Energi dan Pengenaan Tarif Kapal
Negara Barat dan Aliansi NATO Tetapkan Status Siaga Tinggi Hadapi Ketegangan Global
Amerika Serikat Terancam Kehabisan Stok Senjata Akibat Konflik Global yang Berkepanjangan
Rusia dan Negara Strategis Ubah Kebijakan Ekonomi Serta Militer Hadapi Gejolak Dunia
Hari Malaria Sedunia 25 April Kembali Soroti Tantangan Kesehatan Global Terbaru
Israel Tetap Serang Lebanon Meski Kesepakatan Gencatan Senjata Mulai Berlaku
Palestina Gelar Pemilu Lokal Perdana Pasca Perang di Tengah Ketegangan Tinggi
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 19:33 WIB

Krisis Minyak Global Pacu Adopsi Mobil Listrik dan Evaluasi Subsidi Kendaraan

Sabtu, 25 April 2026 - 18:05 WIB

Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan Distribusi Energi dan Pengenaan Tarif Kapal

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Negara Barat dan Aliansi NATO Tetapkan Status Siaga Tinggi Hadapi Ketegangan Global

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Amerika Serikat Terancam Kehabisan Stok Senjata Akibat Konflik Global yang Berkepanjangan

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Rusia dan Negara Strategis Ubah Kebijakan Ekonomi Serta Militer Hadapi Gejolak Dunia

Berita Terbaru

Alternatif Bahan Bakar Selain

Berita

Alternatif Bahan Bakar Selain Pertamina Dex Terbaru 2026

Senin, 4 Mei 2026 - 20:42 WIB