Tim manajemen fasilitas Singapore Sports Center hanya membutuhkan sekitar tiga hari untuk mengumpulkan serta menganalisis ribuan foto pemeriksaan stadion nasional. Proses serupa sebelumnya dapat memakan waktu hingga dua minggu, namun penerapan teknologi digital membuat pekerjaan berlangsung lebih cepat dan efisien.
Sejumlah perusahaan di Singapura mulai memanfaatkan robot dan drone dalam kegiatan konstruksi serta pemeliharaan bangunan guna meningkatkan efisiensi sekaligus keselamatan kerja. Selain Singapore Sports Center, C&W Services yang merupakan divisi fasilitas dan teknis dari perusahaan real estat komersial Cushman & Wakefield juga menggunakan drone dan kecerdasan buatan untuk inspeksi fasad gedung, sehingga waktu pemeriksaan dapat berkurang sekitar 50 hingga 70 persen.
Lam Shiu Tong dari C&W Services menjelaskan bahwa sebelumnya teknisi harus turun langsung menggunakan tali dan katrol untuk memeriksa kondisi bangunan. Cara tersebut dinilai melelahkan dan berisiko. Kini drone mampu mengambil ribuan gambar yang kemudian dianalisis oleh sistem AI untuk mendeteksi kerusakan, sehingga teknisi hanya perlu datang ke titik yang membutuhkan perbaikan.
Perusahaan ISOTeam yang bergerak di bidang pemeliharaan gedung bertingkat juga menerapkan teknologi serupa. Mereka bahkan mengembangkan drone yang mampu membersihkan serta mengecat bagian luar bangunan sehingga kebutuhan perancah berkurang dan risiko pekerjaan di ketinggian dapat diminimalkan.
Analis CGS International Securities Singapore menyebut investasi teknologi memang memerlukan biaya besar di awal, namun dalam jangka panjang memberikan pengembalian yang lebih baik bagi perusahaan.
Sektor konstruksi Singapura terus berkembang, terutama setelah pandemi. Otoritas Konstruksi dan Arsitektur Singapura memperkirakan permintaan konstruksi mencapai sekitar 53 miliar dolar Singapura tahun ini, naik sekitar 15 persen dari proyeksi sebelumnya.
Meski demikian, industri menghadapi tantangan biaya konstruksi yang termasuk tertinggi di dunia. Turner & Townsend memperkirakan biaya meningkat sekitar 5 persen akibat gangguan pasokan bahan bangunan seperti semen dan beton serta kenaikan tarif listrik dan air.
Kekurangan tenaga kerja terampil juga menjadi tantangan. Banyak pekerja harus menangani berbagai peran sekaligus, yang berdampak pada efisiensi kerja. Kondisi ini mendorong perusahaan untuk mempercepat adopsi teknologi.
Pemerintah Singapura mendukung transformasi tersebut melalui subsidi sejak April 2025 bagi usaha kecil agar dapat berinvestasi dalam robotika dan otomatisasi, yang diperkirakan mampu menghemat hingga 50 persen kebutuhan tenaga kerja.
Perkembangan solusi teknologi juga terlihat dari produksi robot pengecat dinding oleh Legend Robot. Mesin tersebut mampu mengecat hingga 1.500 meter persegi per hari, jauh lebih tinggi dibandingkan pekerja manual yang rata-rata sekitar 200 meter persegi. Harga robot ini berkisar antara 70.000 hingga 120.000 dolar AS.
Digitalisasi juga diterapkan pada pengelolaan fasilitas bangunan melalui platform pemantauan berbasis sensor dan AI yang digunakan sejumlah gedung komersial. Sistem tersebut memantau kondisi aset secara real time, mendeteksi potensi kerusakan, dan memberi peringatan kepada pengelola.
Pengelola fasilitas Republic Plaza menyebut penggunaan teknologi memungkinkan inspeksi rutin berubah dari harian menjadi mingguan sehingga sumber daya dapat difokuskan pada masalah yang lebih penting.
Pakar infrastruktur digital menilai digitalisasi membuka peluang pekerjaan baru seperti manajemen fasilitas pintar serta spesialis digital. Hal ini dianggap dapat menarik generasi muda untuk terlibat dalam pengelolaan lingkungan fisik dan bangunan.
C&W Services menilai masa pembangunan gedung umumnya sekitar lima tahun, sementara masa pakainya bisa mencapai 50 tahun atau lebih. Karena itu manajemen fasilitas menjadi faktor penting untuk menjaga keberlanjutan lingkungan bangunan dalam jangka panjang.






