Viktor Orban Sebut Uni Eropa Ancaman, Menolak Narasi Rusia Bahayakan Eropa

Avatar photo

- Penulis Berita

Senin, 16 Februari 2026 - 13:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Perdana Menteri Viktor Orban menghadiri KTT Uni Eropa di Belgia

Perdana Menteri Viktor Orban menghadiri KTT Uni Eropa di Belgia

Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban kembali melontarkan pernyataan tajam yang berpotensi memperlebar jarak Budapest dengan Brussels. Dalam pidatonya kepada para pendukung pada 14 Februari, Orban menilai Uni Eropa merupakan ancaman yang “lebih dekat dan nyata”, sekaligus menolak narasi bahwa Rusia adalah bahaya utama bagi keamanan benua.

Orban mengatakan bahwa menabur ketakutan terhadap Presiden Rusia Vladimir Putin adalah langkah yang pendek dan tidak serius. Ia menegaskan bahwa Brussels, sebagai pusat keputusan Uni Eropa, justru menjadi “realitas keberadaan” dan sumber ancaman yang berada di depan mata, meskipun Hungaria sendiri adalah anggota blok tersebut.

Pernyataan ini muncul saat suasana politik domestik Hungaria memanas menjelang pemilihan yang tinggal sekitar delapan minggu lagi. Orban dan partainya, Fidesz, disebut menghadapi tantangan paling berat sejak kembali berkuasa pada 2010. Sejumlah jajak pendapat independen bahkan menggambarkan Fidesz tertinggal dari partai oposisi kanan-tengah, Tisza.

Di panggung Eropa, Orban dikenal konsisten mengambil posisi berbeda dari mayoritas pemimpin Uni Eropa terkait perang Ukraina. Sejak konflik meletus pada awal 2022, ia secara terbuka menentang bantuan militer dan sebagian dukungan finansial ke Kyiv. Ia juga mempertahankan hubungan yang relatif dekat dengan Rusia, yang kerap membuatnya bersitegang dengan negara-negara Uni Eropa dan NATO.

Situasi ini menciptakan paradoks: Budapest tetap menjadi anggota Uni Eropa dan NATO, namun kerap berada di posisi berseberangan ketika blok Barat membangun kebijakan kolektif. Dalam berbagai kesempatan, pemerintahan Orban dipandang sebagai pihak yang menyulitkan konsensus, terutama saat keputusan membutuhkan kesepakatan luas atau ancaman veto mengemuka.

Hubungan Hungaria dan Uni Eropa juga sudah lama tidak mulus. Koalisi di Brussels disebut membekukan miliaran dolar dana untuk Hungaria dengan alasan kekhawatiran atas pelemahan lembaga demokrasi, independensi peradilan yang dinilai tergerus, serta isu korupsi yang dianggap meluas di aparat negara.

Orban merespons tekanan tersebut dengan sikap yang makin konfrontatif. Ia sering menghambat proses pengambilan keputusan Uni Eropa dan beberapa kali mengancam akan memveto kebijakan penting, termasuk yang berkaitan dengan dukungan ke Ukraina. Di mata pendukungnya, ini dipromosikan sebagai langkah mempertahankan kedaulatan nasional.

Dalam pidato yang sama, Orban juga menuding Uni Eropa berpotensi “mendorong orang Hungaria sampai mati di Ukraina”, sebuah tesis yang mengarah pada ketakutan publik soal keterlibatan lebih jauh. Ia bahkan menggambarkan partai Tisza sebagai “boneka” buatan Uni Eropa yang bertujuan menggulingkan pemerintahan saat ini dan melayani kepentingan asing.

Di sisi oposisi, pemimpin Tisza Peter Magyar menyampaikan janji yang berlawanan: memulihkan hubungan dengan sekutu Barat, menghidupkan kembali ekonomi yang stagnan, dan mendorong proses demokrasi yang lebih sehat. Perbedaan dua garis besar ini membuat pemilu mendatang bukan hanya soal siapa memimpin, tetapi juga soal arah Hungaria di Eropa.

Uni Eropa belum memberi komentar langsung atas pernyataan Orban tersebut. Namun, dengan tensi yang sudah tinggi, pidato ini berpotensi memperpanjang gesekan diplomatik sekaligus menjadi bahan bakar kampanye domestik. Jika Orban terus menempatkan Brussels sebagai “ancaman”, pertanyaan besarnya adalah: sejauh mana Hungaria bisa tetap nyaman berada di dalam blok, sambil terus menantang keputusan kolektifnya.

Berita Terkait

Krisis Minyak Global Pacu Adopsi Mobil Listrik dan Evaluasi Subsidi Kendaraan
Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan Distribusi Energi dan Pengenaan Tarif Kapal
Negara Barat dan Aliansi NATO Tetapkan Status Siaga Tinggi Hadapi Ketegangan Global
Amerika Serikat Terancam Kehabisan Stok Senjata Akibat Konflik Global yang Berkepanjangan
Rusia dan Negara Strategis Ubah Kebijakan Ekonomi Serta Militer Hadapi Gejolak Dunia
Hari Malaria Sedunia 25 April Kembali Soroti Tantangan Kesehatan Global Terbaru
Israel Tetap Serang Lebanon Meski Kesepakatan Gencatan Senjata Mulai Berlaku
Palestina Gelar Pemilu Lokal Perdana Pasca Perang di Tengah Ketegangan Tinggi

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 19:33 WIB

Krisis Minyak Global Pacu Adopsi Mobil Listrik dan Evaluasi Subsidi Kendaraan

Sabtu, 25 April 2026 - 18:05 WIB

Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan Distribusi Energi dan Pengenaan Tarif Kapal

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Negara Barat dan Aliansi NATO Tetapkan Status Siaga Tinggi Hadapi Ketegangan Global

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Amerika Serikat Terancam Kehabisan Stok Senjata Akibat Konflik Global yang Berkepanjangan

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Rusia dan Negara Strategis Ubah Kebijakan Ekonomi Serta Militer Hadapi Gejolak Dunia

Berita Terbaru

Alternatif Bahan Bakar Selain

Berita

Alternatif Bahan Bakar Selain Pertamina Dex Terbaru 2026

Senin, 4 Mei 2026 - 20:42 WIB