Rusia menguji balon udara Barrazh-1 yang dirancang membawa perangkat komunikasi 5G untuk mendukung konektivitas di medan tempur.
Balon ini mampu mengangkut beban hingga 100 kilogram dan beroperasi pada ketinggian sekitar 20 kilometer.
Meski tak setinggi satelit Starlink yang berada ratusan kilometer di orbit, sistem ini dinilai mampu menyediakan internet berkecepatan tinggi di wilayah tertentu.
Keunggulan Barrazh-1 terletak pada fleksibilitas ketinggian dan biaya operasional yang lebih rendah dibanding satelit.
Pengamat militer menyebut solusi ini berpotensi menjadi alternatif murah untuk komunikasi di garis depan.
Namun, target terbang tinggi seperti balon tersebut tetap bisa dijangkau sistem pertahanan udara jarak jauh, meski biayanya mahal.
Pengembangan dilakukan setelah upaya pembatasan akses Starlink terhadap pasukan Rusia.
Jika berhasil, balon 5G ini dapat memperkuat koordinasi dan pengambilan keputusan militer di lapangan.






