Pekan ini semestinya jadi momen “panen poin” bagi para manajer Fantasy Premier League (FPL) yang percaya penuh pada aset Arsenal. Tapi setelah laga berakhir imbang 2-2, banyak orang justru merasa seperti baru saja menyalakan chip paling mahal di waktu yang salah.
Situasinya memang menggoda. Jadwal awal di putaran liga disebut bertepatan dengan final Piala Carabao di Wembley pada 22 Maret, sehingga laga Arsenal vs Wolves menjadi pertandingan Liga Premier yang paling disorot. Dalam logika FPL, kondisi seperti ini membuat pemain Arsenal dianggap punya peluang besar untuk memberi “poin dobel” dan membalik peringkat.
Apalagi lawannya Wolves, tim yang disebut berada di papan bawah dan hanya meraih satu kemenangan sejak awal musim. Tidak heran ketika banyak manajer memilih mengunci ban kapten pada Gabriel—bek yang selama ini dikenal paling konsisten mengumpulkan poin di gim, baik dari catatan bertahan maupun kontribusi bola mati.
Angkanya bahkan memecahkan rekor. Data penyelenggara menunjukkan lebih dari 622.000 pemain FPL menggunakan chip Triple Captain untuk Gabriel. Ini menjadi catatan tertinggi dalam sejarah FPL untuk seorang bek tengah, sekaligus menandakan betapa masifnya keyakinan publik bahwa Arsenal akan menang nyaman.
Awal pertandingan memang seperti skenario sempurna. Arsenal sempat unggul cepat dua gol, dan Gabriel disebut punya umpan yang membelah pertahanan Wolves untuk Piero Hincapie yang menuntaskan peluang. Pada fase ini, manajer yang memakai Triple Captain merasa keputusan mereka “terbayar” bahkan sebelum peluit akhir.
Masalahnya datang di menit-menit akhir. Arsenal dinilai lengah dan pertahanannya kedodoran, memberi ruang bagi tuan rumah untuk bangkit. Dua gol balasan membuat laga selesai 2-2—hasil yang menggerus potensi poin bersih dari lini belakang dan mengubah pesta menjadi keluhan massal.
Untuk putaran tersebut, Gabriel hanya membawa 7 poin. Secara matematis, pengguna Triple Captain mendapat 21 poin—angka yang tidak kecil, tetapi dianggap buruk karena ekspektasinya jauh lebih tinggi dan chip ini sangat terbatas. Dalam aturan FPL yang disebutkan, Triple Captain hanya bisa dipakai dua kali dalam semusim, dibagi untuk paruh pertama (1–19) dan paruh kedua kompetisi.
Di saat yang sama, nama lain dari Arsenal juga membuat manajer FPL “gerah”: Viktor Gyokeres. Striker Swedia itu menjadi pemain dengan jumlah transfer masuk terbanyak di putaran ini (578.699 manajer), namun total hanya memberi 3 poin dari dua pertandingan. Padahal di dua putaran sebelumnya ia sempat menyumbang hingga 19 poin, sehingga banyak orang berharap tren itu berlanjut.
Di tengah kekecewaan, ada satu pengecualian yang menyelamatkan sebagian pemain: Declan Rice. Gelandang Inggris tersebut disebut mengumpulkan 14 poin dari dua laga di putaran ke-26 berkat kontribusi assist, sekaligus menjadikannya gelandang Arsenal yang paling banyak dipilih oleh pengguna FPL saat ini.
Dampaknya langsung terasa di papan peringkat. Putaran ke-26 diprediksi menjadi titik balik karena sekitar 70% pemain di kelompok 10.000 besar memilih Gabriel sebagai kapten. Sebaliknya, hanya nyaris 9% yang mempercayakan ban kapten kepada Declan Rice. Ketika hasil lapangan tidak sesuai prediksi, selisih keputusan kecil itu mendadak jadi penentu besar.






