Harga emas dunia kembali bangkit pada penutupan perdagangan 20 Februari (waktu Amerika Serikat), setelah sempat terseret aksi ambil untung. Rebound ini terjadi saat pelaku pasar menilai ulang dampak rencana tarif global baru Presiden Donald Trump, serta membaca arah kebijakan moneter Federal Reserve.
Dalam sesi tersebut, emas spot ditutup di sekitar US$5.105,9 per ounce. Di saat yang sama, pergerakannya disebut menguat sekitar US$111 sehingga berada di kisaran US$5.111,9 per ounce, atau naik lebih dari 5% dari titik terendah minggu ini.
Kontrak emas pengiriman April di Amerika Serikat ikut bergerak naik. Kontrak tersebut menutup sesi menguat 1,7% ke level US$5.080,9 per ounce, menandakan minat terhadap aset lindung nilai kembali membesar.
Sehari sebelumnya, logam mulia ini sempat melesat menembus US$5.000 per ounce. Namun reli cepat itu memicu aksi profit taking, sehingga harga turun tajam hingga menyentuh US$4.981 per ounce sebelum kembali memantul.
Dalam sepekan terakhir, rentang gerak emas cenderung sempit. Salah satu faktor yang disebut ikut meredam volume transaksi adalah libur panjang di sebagian pasar Asia, yang biasanya membuat likuiditas menipis dan pergerakan harga lebih “rapat”.
Dari sisi politik ekonomi, sorotan pasar mengarah pada keputusan Mahkamah Agung AS pada 20 Februari. Putusan tersebut menyatakan tarif global berskala luas yang diterapkan Trump di bawah Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) sebagai ilegal karena dinilai melampaui kewenangan.
Meski demikian, Trump menyatakan akan menyiapkan tarif global 10% dalam 150 hari sebagai pengganti sebagian tarif darurat yang dibatalkan. Ketidakpastian arah kebijakan dagang inilah yang sering kali membuat investor kembali melirik emas sebagai aset “pelarian”.
Ketegangan geopolitik turut menambah sentimen defensif. Pada hari yang sama, Trump juga mengonfirmasi sedang mempertimbangkan serangan udara terbatas ke Iran untuk menekan pembicaraan nuklir, sementara Teheran disebut menyiapkan skenario menghadapi potensi perang.
Di ranah data ekonomi, laporan terbaru menunjukkan pertumbuhan ekonomi AS melemah menjadi 1,4% (year-on-year) pada kuartal IV 2025—jauh di bawah perkiraan ekonom sebesar 3%. Beberapa analis mengaitkannya dengan tekanan dari penutupan pemerintah serta pelemahan belanja konsumen.
Sementara itu, indikator inflasi favorit The Fed, yakni Indeks Pengeluaran Konsumsi Pribadi (PCE), naik 0,4% pada Desember dan melampaui ekspektasi pasar. Bob Haberkorn dari RJO Futures menilai kombinasi inflasi yang masih “menempel” dan pertumbuhan yang turun menciptakan ketidakjelasan—situasi yang biasanya mendukung harga emas.
Pelaku pasar masih memproyeksikan The Fed akan memangkas suku bunga dua kali tahun ini, masing-masing 25 basis poin, dengan perkiraan pemotongan pertama pada Juni. Di luar emas, perak spot melonjak 7,7% menjadi US$84,52 per ounce, platinum naik 4,5% ke US$2.163,53, dan paladium menguat 4% ke US$1.751,7 per ounce.






