Alejandro Garnacho kembali menjadi bahan perbincangan, tetapi bukan karena gol atau kontribusi di lapangan. Dalam laga Chelsea kontra Burnley yang berakhir 1-1 pada 22 Februari 2026, pemain sayap Argentina itu kembali tidak mendapatkan menit bermain—sebuah situasi yang mempertegas posisinya yang kian terpinggirkan.
Dalam beberapa pekan terakhir, Garnacho disebut semakin sering duduk di bangku cadangan. Dua pertandingan Liga Premier secara beruntun ia “hilang” tanpa kesempatan masuk. Jika ditarik lebih luas, dalam 8 pekan terakhir, ia dikabarkan lebih sering tidak dimainkan, termasuk absen bermain dalam 5 pertandingan.
Saat ia akhirnya dimainkan dalam kesempatan terbatas, dampaknya juga dinilai minim. Salah satu contoh yang disebut adalah ketika ia tampil sekitar 29 menit melawan Wolves tanpa banyak pengaruh pada pola serang. Bahkan, terakhir kali publik melihat Garnacho bermain penuh 90 menit di kompetisi tertinggi Inggris disebut terjadi sebelum libur Natal, saat laga imbang 2-2 melawan Newcastle pada 22 Desember 2025.
Di tengah minimnya kontribusi di lapangan, sorotan media justru bergerak ke kehidupan pribadinya. Ia dikaitkan dengan pasangan baru bernama Adriana Lobaz yang aktif di media sosial. Kontras antara sorotan personal yang ramai dan performa lapangan yang menurun membuat namanya semakin sering muncul dalam konteks non-teknis.
Secara statistik, performanya bersama Chelsea juga disorot. Sejak pindah ke London pada awal musim dengan nilai transfer yang disebut mencapai £40 juta, kontribusinya baru tercatat 1 gol dan 3 assist, meskipun telah diberi kesempatan bermain sekitar 900 menit.
Situasi ini memunculkan penilaian bahwa Garnacho mengalami penurunan tajam dibanding periode awal kariernya. Pada musim 2022/23 ketika mulai mendapat tempat di tim utama, ia disebut mampu menorehkan 3 gol dan 2 assist hanya dalam 563 menit penampilan. Namun kini, bahkan saat diberi kesempatan penuh (misalnya dalam laga Piala FA melawan Hull City), ia dinilai tidak mampu meninggalkan jejak berarti.
Sejumlah pengamat menilai, Garnacho mungkin perlu mengevaluasi ulang jalur kariernya. Ada asumsi bahwa gaya bermainnya—kecepatan, cut-inside, dan duel satu lawan satu—mulai “terbaca” oleh bek-bek di Inggris, sementara tuntutan fisik dan taktik Liga Premier menuntut perkembangan yang lebih cepat.
Di sisi lain, narasi “pemain yang justru bangkit setelah meninggalkan MU” kembali ikut dibahas. Nama-nama seperti Antony, Mason Greenwood, atau Rasmus Hojlund disebut menunjukkan wajah yang lebih positif di lingkungan baru. Kontras itu membuat Garnacho semakin berada dalam tekanan untuk mengambil keputusan yang tepat agar kariernya tidak tersendat lebih lama.
Jika tren ini berlanjut, pilihan realistis yang sering muncul adalah mencari tantangan di liga dengan karakter berbeda—atau setidaknya klub yang mampu memberikan menit bermain konsisten dan peran yang jelas dalam sistem. Bagi pemain kelahiran 2004, momentum perkembangan tetap menjadi hal paling krusial.






