Industri hiburan Jepang diguncang kabar penangkapan Simon Junho Sakai yang dikenal dengan nama Jakops. Ia disebut merupakan CEO label XGLAX sekaligus produser utama grup XG. Penangkapan ini dilaporkan terkait dugaan pelanggaran Undang-Undang Pengendalian Narkoba di Jepang.
Menurut laporan yang dikutip dari Star News, Jakops ditangkap oleh kepolisian di Prefektur Aichi. Operasi penangkapan berlangsung di sebuah hotel di Nagoya. Dalam pemeriksaan di lokasi, polisi disebut menemukan dan menyita barang yang diduga kokain serta ganja.
Penyidik kini memperluas penyelidikan untuk menelusuri asal barang tersebut dan bagaimana Jakops diduga memperolehnya. Aparat juga disebut tengah memperkuat berkas hukum agar proses selanjutnya bisa berjalan sesuai ketentuan yang berlaku di Jepang.
Tidak hanya Jakops, tiga orang lain dikabarkan ikut diamankan dalam periode yang sama dengan dugaan pelanggaran serupa. Informasi awal menyebut mereka kemungkinan terhubung dengan lingkar industri hiburan, tetapi identitas resmi belum diumumkan oleh pihak berwenang.
Waktu kejadian ini disebut berdekatan dengan kehadiran Jakops di sebuah pertunjukan grup XG di Nagoya pada 22 Februari. Kedekatan waktu tersebut membuat kabar cepat menyebar di komunitas penggemar, terutama karena peran Jakops sangat sentral dalam pembentukan dan strategi XG.
Menanggapi pemberitaan yang berkembang, XGLAX mengeluarkan pernyataan pada sore 23 Februari. Pihak label menyatakan sedang memverifikasi dan mengumpulkan informasi terkait insiden tersebut, serta akan mematuhi permintaan penyelidikan dari aparat.
Jakops lahir pada 1986 dan disebut memiliki latar Korea-Jepang. Kariernya di industri musik dimulai sebagai idola, pernah aktif bersama grup Dalmatian menggunakan nama panggung Simon, sebelum kemudian beralih ke belakang layar sebagai produser.
Pada 2017, ia mendirikan XGLAX. Lima tahun setelahnya, label tersebut merilis XG—grup beranggotakan artis Jepang yang aktif di pasar Korea Selatan dan internasional. Proyek XG dalam beberapa tahun terakhir dikenal agresif membangun posisi global, sehingga kabar ini pun berdampak luas.
Di tengah penyelidikan, publik kini menunggu kejelasan resmi dari aparat Jepang, termasuk detail barang bukti, status hukum, dan perkembangan penanganan perkara. Pada tahap ini, informasi yang beredar masih berupa laporan penangkapan dan langkah awal penyidikan.
Kasus ini juga menyorot ketatnya hukum Jepang terkait narkotika. Proses penanganannya biasanya sangat serius dan berdampak besar pada reputasi personal maupun korporasi, terlebih jika yang terlibat adalah figur publik yang memegang peran manajerial.
Sementara itu, bagi XGLAX dan para penggemar XG, fokus terdekat adalah memastikan aktivitas artis tetap berjalan sambil menunggu hasil penyelidikan. Pernyataan label yang memilih jalur verifikasi menandakan mereka akan bergerak berdasarkan fakta resmi, bukan spekulasi yang berkembang di ruang publik.






