Program airdrop yang seharusnya menjadi “bonus kecil” justru berubah menjadi kejadian besar di bursa kripto Korea Selatan, Bithumb. Dalam insiden yang terjadi pada 6 Februari, sistem distribusi hadiah dilaporkan salah menempatkan nominal, sehingga sejumlah akun pengguna mendadak menampilkan saldo Bitcoin yang tidak masuk akal. Alih-alih menerima insentif dalam nominal kecil, beberapa pengguna mendapati catatan internal akun mereka menunjukkan seolah-olah menerima 2.000 BTC per orang.
Situasi seperti ini biasanya langsung memicu reaksi cepat. Begitu angka saldo terlihat “membengkak”, sebagian pengguna mencoba melakukan aksi jual secepat mungkin. Dampaknya terlihat pada pasangan perdagangan BTC/KRW di Bithumb yang sempat bergerak tidak wajar. Pada titik tertentu, harga Bitcoin di bursa tersebut disebut menyimpang jauh dibandingkan bursa lain, bahkan sempat terlihat turun tajam sebelum kembali normal.
Perbedaan harga antar-bursa sebenarnya bukan hal baru di pasar kripto. Setiap bursa punya likuiditas, kedalaman order book, serta komposisi penjual-pembeli yang berbeda. Ketika terjadi lonjakan order jual mendadak dalam satu bursa, harga lokal bisa jatuh lebih cepat daripada bursa lain, apalagi jika arus arbitrase tidak bisa bekerja instan karena hambatan transfer aset dan proses deposit/withdraw yang tidak selalu seketika.
Pihak Bithumb menyatakan mereka mendeteksi transaksi yang tidak normal melalui mekanisme kontrol internal, kemudian membatasi aktivitas pada akun yang terdampak untuk mencegah eskalasi. Mereka menegaskan bahwa insiden ini bukan hasil peretasan dan tidak melibatkan perpindahan Bitcoin di blockchain. Artinya, “saldo” yang muncul disebut hanya tercatat di buku besar internal platform, bukan transaksi on-chain yang benar-benar mengirim BTC ke dompet eksternal.
Menurut penjelasan perusahaan, kondisi harga kembali stabil dalam hitungan menit setelah pembatasan diterapkan. Sistem pencegahan likuidasi juga diklaim berjalan sesuai fungsi, sehingga pergerakan harga ekstrem tidak otomatis menyeret posisi pengguna lain ke likuidasi berantai. Meski begitu, kejadian seperti ini menegaskan satu hal: pada bursa dengan pasar yang terfragmentasi, kesalahan operasional kecil dapat memicu gejolak besar dalam waktu singkat, terutama ketika psikologi “jual dulu” mendahului verifikasi fakta.






