Amazon MGM Studios harus menghadapi kenyataan pahit setelah film dokumenter terbaru mereka yang bertajuk “Melania” gagal menarik minat penonton di Inggris. Meskipun Amazon telah mengucurkan dana sebesar $40 juta untuk hak siar dan tambahan $35 juta untuk biaya pemasaran global, angka penjualan tiket pada hari pembukaan menunjukkan hasil yang sangat memprihatinkan.
Di teater Vue Islington, London, film yang diharapkan menjadi blockbuster ini hanya berhasil menjual satu tiket tunggal untuk jadwal pemutaran perdana pukul 15:10 pada tanggal 23 Januari 2026.
Kondisi serupa juga terlihat pada jadwal pemutaran berikutnya di lokasi yang sama, di mana hanya ada dua tiket yang dipesan sebelumnya. Di wilayah lain seperti teater Cineworld Wandsworth dan Broughton, angka penjualan pun tidak jauh berbeda, masing-masing hanya mencatat pemesanan sebanyak empat dan lima tiket. Rendahnya antusiasme ini menjadi sorotan tajam, mengingat film ini ditayangkan serentak di lebih dari 100 bioskop di seluruh Inggris dengan dukungan promosi yang masif.
CEO jaringan bioskop Vue, Tim Richards, mengungkapkan bahwa pihaknya menerima banyak keluhan melalui email dari masyarakat yang mengkritik keputusan penayangan dokumenter tersebut. Namun, Richards menegaskan bahwa selama sebuah film telah mendapatkan persetujuan dari Dewan Klasifikasi Film Inggris (BBFC), pihaknya tetap akan menayangkannya sebagai bentuk keterbukaan distribusi. Meski demikian, pernyataan ini tidak meredam kritik di media sosial yang menyebut proyek ini sebagai pemborosan jutaan dolar dari pihak Amazon.
Film dokumenter “Melania” sendiri merangkum momen-momen selama 20 hari sebelum Donald Trump kembali menjabat sebagai Presiden AS pada Januari 2025. Setelah diputar di Gedung Putih pada 24 Januari lalu, film ini dijadwalkan akan mengadakan penayangan perdana resmi di Kennedy Center, Washington, sebelum akhirnya didistribusikan ke 27 negara.
Hingga saat ini, pihak Melania Trump belum memberikan komentar resmi terkait laporan kegagalan komersial di pasar Inggris yang disebut oleh beberapa pengguna media sosial sebagai sebuah “bencana” reputasi.






