Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menegaskan peran perusahaan tidak berhenti pada membuka lowongan kerja. Menurutnya, perusahaan juga perlu menjadi “ruang tumbuh” agar pekerja dapat berkembang, meningkatkan keterampilan, dan lebih siap menghadapi perubahan dunia kerja yang makin cepat.
Yassierli menilai, dinamika industri saat ini menuntut kemampuan adaptasi yang tinggi. Karena itu, lingkungan kerja ideal adalah lingkungan yang memberi kesempatan belajar, menyediakan pelatihan, dan mendorong pekerja memperbarui kompetensinya secara berkala.
Dalam pandangannya, pengembangan SDM bukan sekadar program tambahan yang bagus untuk citra perusahaan. Ia menyebutnya sebagai bagian dari hubungan industrial yang sehat dan berkelanjutan, karena investasi pada manusia akan kembali menjadi nilai bagi bisnis.
Ia menyampaikan bahwa pemberdayaan pekerja harus dipahami sebagai strategi. Ketika pekerja dibuat mampu, didukung, dan diberi kesempatan berkembang, dampaknya tidak hanya terasa pada individu, tetapi juga memberi efek jangka panjang bagi perusahaan, termasuk produktivitas dan kualitas kerja.
Yassierli juga menyinggung soal keterikatan pekerja (engagement). Pekerja yang merasa dihargai dan didukung cenderung memiliki rasa memiliki terhadap perusahaan, bekerja dengan semangat yang lebih stabil, serta memberi kontribusi yang melampaui standar minimum.
Baginya, pemberdayaan berarti membuat pekerjaan menjadi bermakna. Pekerja tidak sekadar “menuntaskan tugas”, tetapi memahami tujuan kerja, merasa punya peran, dan terdorong untuk memberi hasil terbaik. Ini, menurutnya, adalah salah satu kunci daya saing perusahaan di masa depan.
Namun ia mengaku sedih ketika mendapati realitas yang masih terjadi: ada pekerja yang sudah 10 hingga 20 tahun bekerja, tetapi karier dan keterampilannya tidak berkembang. Kondisi itu, kata Yassierli, tidak seharusnya dianggap normal karena manusia memiliki potensi besar untuk naik level jika ada dukungan.
Ia kemudian mendorong pekerja di berbagai posisi untuk mempelajari keterampilan baru, termasuk kemampuan dasar seperti penguasaan komputer. Bagi sebagian orang, hal ini terdengar sepele, tetapi di era kerja modern, literasi digital adalah fondasi agar tidak tertinggal.
Yassierli mengingatkan bahwa ketidakpastian dunia kerja akan semakin tinggi. Karena itu, agility atau kelincahan beradaptasi harus menjadi bekal utama. Pekerja perlu siap menghadapi perubahan teknologi, perubahan pola bisnis, hingga perubahan kebutuhan pasar.
Di sisi lain, ia menekankan peran perusahaan untuk membantu menemukan dan mengoptimalkan potensi pekerja. Ketika perusahaan memanusiakan pekerja dan membangun ekosistem belajar, hubungan kerja dapat menjadi lebih harmonis, lebih produktif, dan lebih tahan krisis.
Pesan akhirnya tegas: masa depan perusahaan tidak hanya ditentukan mesin dan modal, tetapi oleh manusia yang terus bertumbuh. Perusahaan yang serius membangun kompetensi pekerja sejak hari ini, biasanya tidak perlu panik mencari talenta besok—karena talenta itu sudah dibesarkan dari dalam.






