BYD disebut tengah membuka peluang untuk masuk ke arena Formula 1, kompetisi balap yang kini semakin ramai dilirik produsen otomotif dunia. Ketertarikan itu muncul di tengah masuknya sejumlah nama besar seperti Ford, Audi, GM lewat Cadillac, hingga Toyota yang sama-sama memperluas jejak mereka di ajang balap paling bergengsi tersebut.
Produsen mobil terbesar asal China itu disebut tidak hanya mempertimbangkan Formula 1, tetapi juga berbagai bentuk balap lain sebagai bagian dari strategi jangka panjang. Informasi yang beredar menyebut BYD sedang mengkaji beberapa opsi, termasuk membentuk tim sendiri atau mengambil alih tim yang sudah ada agar proses masuk ke F1 bisa lebih realistis.
Dari sisi teknis dan bisnis, membangun tim baru dari nol jelas bukan pekerjaan ringan. Formula 1 bukan sekadar soal membuat mobil cepat, tetapi juga menuntut investasi besar, sumber daya manusia kelas tinggi, pengembangan teknologi yang berkelanjutan, serta jaringan operasional yang sangat kompleks di banyak negara.
Karena itu, opsi akuisisi dinilai lebih masuk akal. Langkah seperti ini sudah pernah dilakukan Audi ketika resmi masuk F1 dengan mengambil alih penuh tim Sauber. Nilai transaksi akuisisi Sauber sendiri disebut berada di kisaran 600 juta euro atau sekitar 697 juta dolar AS, memberi gambaran bahwa pintu masuk ke F1 memang mahal sejak dari gerbangnya.
BYD disebut bisa mempertimbangkan jalur serupa dengan membeli tim yang sudah ada, dan salah satu nama yang disebut berpeluang adalah Alpine. Tim tersebut dikabarkan sedang aktif mencari investor, sehingga secara teori bisa menjadi opsi yang lebih cepat dibandingkan membangun tim baru dari nol.
Namun, akuisisi pun bukan solusi murah. Setelah membeli tim, BYD tetap harus siap menghadapi biaya operasional yang bisa menembus lebih dari 500 juta dolar AS per musim. Ini membuat keputusan untuk masuk F1 harus dipandang bukan sekadar proyek pencitraan singkat, melainkan komitmen besar yang menyentuh strategi merek, teknologi, dan pemasaran global.
Dukungan terhadap kemungkinan masuknya pabrikan China ke Formula 1 juga sempat disampaikan Ketua FIA Mohammed Ben Sulayem. Ia pernah menyebut bahwa setelah kehadiran tim-tim asal Amerika Serikat seperti Cadillac dan Haas, langkah selanjutnya yang menarik adalah menyambut masuknya produsen otomotif dari China ke olahraga ini. Kalimat itu terdengar seperti undangan halus, meski tentu tanpa bonus pit pass gratis.
Jika BYD benar-benar masuk F1, langkah tersebut hampir pasti akan menjadi bagian dari strategi memperkuat kehadiran globalnya. Dengan penjualan kendaraan listrik yang terus tumbuh di berbagai negara, partisipasi dalam Formula 1 bisa menjadi panggung besar untuk menegaskan BYD bukan hanya raksasa pasar domestik China, tetapi juga pemain global yang siap tampil di garis start industri otomotif dunia.






