Pemerintahan Presiden Donald Trump melontarkan kritik keras kepada CNN setelah media tersebut menayangkan laporan yang menyebut Washington meremehkan kemampuan Iran dalam mengganggu arus pelayaran melalui Selat Hormuz. Polemik ini menambah ketegangan baru di tengah konflik Iran yang masih berlangsung dan situasi energi global yang belum stabil.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth menolak mentah-mentah narasi tersebut dalam konferensi pers pada 13 Maret. Ia mengatakan tudingan bahwa pemerintahan Trump tidak memikirkan risiko blokade Selat Hormuz adalah hal yang tidak serius. Menurutnya, selama puluhan tahun Iran sudah berulang kali mengancam operasi maritim di jalur itu, sehingga skenario semacam itu sama sekali bukan hal baru bagi Pentagon.
Hegseth menegaskan bahwa media seperti CNN keliru jika menganggap pemerintah AS tidak memperhitungkan ancaman tersebut. Ia bahkan menyindir CNN dalam komentarnya dan menyebut laporan itu sebagai contoh berita yang tidak layak dianggap serius.
Gedung Putih juga ikut mengecam isi pemberitaan tersebut. Sekretaris pers Karoline Leavitt menyebut laporan tentang Selat Hormuz sebagai “berita palsu 100 persen” dan menegaskan bahwa Pentagon sudah lama memiliki rencana menghadapi skenario Iran menutup jalur pelayaran secara nekat. Menurutnya, skenario itu bahkan telah masuk dalam kalkulasi pemerintah jauh sebelum operasi militer terbaru dimulai.
Di sisi lain, CNN membalas kritik tersebut melalui pernyataan Direkturnya, Mark Thompson. Ia menegaskan bahwa satu-satunya fokus CNN adalah menyampaikan kebenaran kepada pemirsa di Amerika Serikat dan seluruh dunia. Thompson juga menyatakan tekanan politik atau ancaman apa pun tidak akan mengubah sikap redaksi mereka.
Serangan verbal dari Trump dan lingkarannya terhadap CNN sebenarnya bukan hal baru. Presiden AS itu sudah lama menjadikan media tersebut sebagai salah satu sasaran kritik, termasuk kepada sejumlah jurnalis seperti Kaitlan Collins. Dalam konteks perang Iran dan dampaknya ke pasar energi, pertarungan narasi media kini terlihat makin keras dan makin terbuka.
Hegseth sendiri dalam konferensi persnya menuduh media sering memilih judul yang sengaja membentuk persepsi negatif terhadap militer AS. Ia mencontohkan bahwa alih-alih menyoroti “Iran makin putus asa”, media justru memilih bingkai berita yang menekankan potensi kekacauan lebih besar. Intinya, selain perang di lapangan, ada juga perang judul yang sama-sama panas.
Sementara itu, konflik Iran masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Selat Hormuz tetap menjadi titik rawan yang mempengaruhi pasar minyak dunia, dan setiap laporan soal jalur itu memiliki dampak politik sekaligus ekonomi. Dalam situasi seperti ini, pertarungan antara pemerintah dan media pun ikut menjadi bagian penting dari dinamika krisis yang sedang berlangsung.






