Kebakaran yang terjadi di kapal induk USS Gerald R. Ford memicu gangguan besar bagi awak kapal setelah api dilaporkan menyala lebih dari 30 jam. Insiden ini membuat lebih dari 600 pelaut kehilangan tempat tidur dan harus beristirahat di lantai maupun meja, sementara aktivitas dasar seperti mencuci pakaian ikut terganggu selama beberapa hari.
Menurut keterangan yang dikutip dari pelaut dan pejabat militer Amerika Serikat, api bermula dari saluran ventilasi pengering di area binatu pada 12 Maret. Proses pemadaman memakan waktu panjang dan baru bisa dikendalikan setelah lebih dari 30 jam. Untuk kapal perang modern yang seharusnya serba siap, sumber kebakarannya justru datang dari area laundry, sesuatu yang terdengar sepele tetapi berujung sangat merepotkan.
Angkatan Laut AS pada 16 Maret mengumumkan bahwa sepertiga awak USS Gerald R. Ford telah dievakuasi ke daratan menyusul dampak dari kebakaran tersebut. Kapal induk ini membawa sekitar 4.500 pelaut dan pilot, sebagian besar tidur di ranjang bertingkat dalam ruang komunal yang sempit. Ketika satu area terdampak serius, efek dominonya cepat terasa ke pengaturan hidup harian awak.
Komando Pusat AS atau CENTCOM menyebut puluhan orang di kapal melaporkan mengalami gangguan akibat menghirup asap. Meski demikian, pihak militer menegaskan bahwa kebakaran tidak sampai memengaruhi sistem propulsi maupun reaktor nuklir kapal. Artinya, insiden ini tidak mengancam operasi vital kapal secara langsung, tetapi tetap menciptakan tekanan besar pada sisi kenyamanan dan stamina kru.
USS Gerald R. Ford sendiri merupakan kapal induk terbesar di dunia dengan panjang sekitar 337 meter dan lebar 78 meter. Kapal ini telah memasuki bulan ke-10 penugasan berturut-turut setelah dipindahkan dari Karibia ke Timur Tengah untuk mendukung operasi militer terhadap Iran. Jika tetap berada di laut hingga pertengahan April, masa penugasannya akan menjadi yang terlama untuk kapal induk AS sejak 1975.
Situasi menjadi makin berat karena awak dikabarkan telah diberi tahu bahwa penugasan kemungkinan berlanjut hingga Mei. Jika itu terjadi, maka Ford akan menjalani operasi laut penuh selama setahun, dua kali lebih lama dari durasi penugasan kapal induk yang lazim. Dalam konteks ini, kebakaran di tengah masa tugas panjang tentu bukan gangguan kecil, melainkan tambahan tekanan di saat kru sudah berada dalam ritme yang melelahkan.
Insiden ini juga menambah daftar persoalan yang sebelumnya sudah membayangi USS Gerald R. Ford. Kapal perang yang menelan biaya hampir 13 miliar dolar AS itu disebut mengalami berbagai kendala sejak masa pembangunan hingga penugasan di laut. Belum lama ini, media AS juga menyoroti masalah pada ratusan toilet di kapal yang sering tersumbat akibat desain sistem yang dinilai bermasalah.
Sejumlah pengamat menilai lamanya penugasan akan meningkatkan tingkat keausan kapal sekaligus kelelahan awak. Mantan juru bicara Pentagon John F. Kirby menilai mustahil mengoperasikan kapal dalam intensitas tinggi terlalu lama tanpa memengaruhi performa sistem maupun kru. Dengan pemeliharaan besar yang juga dilaporkan tertunda, USS Gerald R. Ford kini menghadapi tantangan ganda: menjaga kesiapan tempur sambil menanggung dampak akumulatif dari masalah teknis dan penugasan yang berkepanjangan.






