Proyek kendaraan listrik Afeela yang sempat digadang-gadang sebagai kolaborasi besar antara Sony dan Honda kini resmi dihentikan. Keputusan ini menandai perubahan penting dalam arah bisnis kendaraan listrik kedua perusahaan, terutama setelah Honda melakukan penyesuaian strategi EV di tengah dinamika pasar global yang makin menantang.
Sony Honda Mobility mengonfirmasi bahwa penghentian proyek mencakup seluruh rencana pengembangan mobil Afeela, termasuk sedan Afeela 1 dan model SUV yang sebelumnya juga dipersiapkan. Padahal, kendaraan ini sempat diposisikan sebagai kombinasi menarik antara teknologi hiburan canggih milik Sony dan pengalaman manufaktur otomotif Honda. Di atas kertas terlihat meyakinkan, tetapi pasar otomotif memang suka menguji semua orang tanpa belas kasihan.
Afeela 1 sejatinya sudah cukup dekat dengan tahap komersial. Model sedan tersebut direncanakan mulai dikirim pada akhir 2026, dengan dua varian yang dibanderol sekitar 89.900 dolar AS dan 102.900 dolar AS. Sebelum keputusan penghentian diambil, mobil itu bahkan telah masuk fase pra-produksi di pabrik East Liberty. Artinya, pembatalan ini bukan terjadi saat proyek masih sebatas mimpi di slide presentasi.
Latar belakang keputusan ini berkaitan dengan penyesuaian strategi elektrifikasi Honda yang diumumkan pada pertengahan Maret. Seiring perubahan itu, elemen platform, teknologi, dan sumber daya yang sebelumnya disediakan untuk proyek Afeela dinilai tidak lagi sesuai dengan kebutuhan baru perusahaan. Dengan kata lain, fondasi yang semula dipakai bersama tidak lagi dianggap cocok untuk dilanjutkan ke tahap produksi massal.
Selain faktor internal, kondisi pasar kendaraan listrik global juga disebut ikut memengaruhi keputusan tersebut. Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah produsen otomotif memang lebih berhati-hati dalam menggelontorkan dana ke proyek EV baru. Permintaan di beberapa pasar besar tidak secepat harapan awal, sementara investasi pengembangan, produksi, dan infrastruktur tetap sangat mahal. Kalau hitung-hitungan bisnis mulai terasa berat, bahkan proyek secantik Afeela pun bisa mendadak kehilangan lampu panggung.
Sebelum menggandeng Honda pada 2022, Sony terlebih dahulu memperkenalkan konsep sedan di CES 2020 dan SUV pada 2021. Saat itu, banyak pihak melihat potensi besar dari keterlibatan perusahaan teknologi dalam industri mobil listrik. Namun, transisi dari konsep futuristis ke kendaraan yang benar-benar diproduksi dalam volume besar selalu menjadi tahap paling sulit. Di sanalah banyak proyek hebat biasanya mulai berhadapan dengan realita biaya, rantai pasok, dan target keuntungan.
Meski proyek Afeela dihentikan, Sony dan Honda menegaskan kerja sama keduanya belum berakhir sepenuhnya. Mereka menyatakan masih akan mengevaluasi kembali arah Sony Honda Mobility dan menyiapkan rencana jangka menengah maupun panjang. Artinya, hubungan bisnis tetap terbuka, hanya format dan fokusnya yang kemungkinan akan berubah mengikuti kebutuhan pasar dan strategi masing-masing perusahaan.
Berakhirnya proyek Afeela juga memperlihatkan bahwa era kendaraan listrik tidak hanya soal siapa paling cepat meluncurkan konsep, tetapi siapa yang mampu bertahan dengan model bisnis yang kuat. Bagi Honda dan Sony, langkah ini mungkin pahit, tetapi bisa jadi dianggap lebih realistis daripada memaksakan proyek mahal yang prospeknya semakin kabur. Di industri otomotif modern, kadang keputusan paling rasional justru bukan melaju terus, melainkan tahu kapan harus menarik rem.






