Pemerintah Kota Bandung sedang berpacu menangani lonjakan sampah yang terjadi setelah Lebaran. Peningkatan timbulan yang cukup besar membuat proses pengangkutan dan pengolahan harus dikejar setiap hari agar tumpukan tidak semakin meluas. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut volume sampah sejak H-1 hingga H+4 Lebaran naik sekitar 20 persen, dari kisaran normal 1.500 ton per hari menjadi sekitar 1.800 ton per hari.
Kenaikan ini membuat kondisi di lapangan cukup berat. Penumpukan harian masih terus terjadi, bahkan saat sampah sudah diangkut pada pagi hari, sore atau keesokan paginya tumpukan baru kembali muncul. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi bukan sekadar soal distribusi truk, tetapi tekanan volume yang datang lebih cepat daripada kemampuan sistem menguranginya.
Menurut Farhan, dari total sampah yang dikirim untuk diolah, saat ini sekitar 500 hingga 600 ton masih terus dikejar proses pengolahannya setiap hari. Besarnya timbulan menyebabkan pengurangan tumpukan belum bisa dilakukan secara signifikan. Artinya, beban utama bukan hanya membersihkan yang terlihat di jalan, tetapi juga mengejar kapasitas pengolahan agar aliran sampah tidak macet di tengah sistem.
Untuk menanggulangi situasi itu, Pemkot Bandung sedang menambah kapasitas pengolahan melalui beberapa metode. Di antaranya adalah gasifikasi, insinerator, dan pengolahan sampah organik. Sejumlah titik pengolahan difokuskan di kawasan Ciwastra dan Gedebage. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah kota tidak ingin hanya memindahkan sampah dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi mencoba memperbesar kemampuan menyelesaikan masalah dari hulunya.
Namun, Farhan menegaskan bahwa pemulihan kondisi tidak akan cukup jika hanya mengandalkan pemerintah. Ia menyebut keadaan akan kembali normal jika warga ikut menekan timbulan sampah dari rumah masing-masing. Pesan ini terasa penting karena dalam masalah persampahan, volume dari sumber selalu menentukan seberapa besar tekanan ke sistem kota. Mesin boleh ditambah, patroli boleh dikerahkan, tapi kalau rumah tangga tetap produksi sampah seperti sedang lomba, ya kota pasti megap-megap juga.
Selain lonjakan volume sampah biasa, Pemkot Bandung juga menyoroti maraknya tempat pembuangan sampah ilegal yang memperburuk situasi. Saat ini tercatat sekitar 60 titik TPS ilegal yang menjadi perhatian serius. Menurut Farhan, lokasi-lokasi ini tidak akan dibiarkan karena berarti pembiaran terhadap pelanggaran hukum dan pencemaran lingkungan. Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya soal kotor, tetapi juga soal ketertiban kota.
Untuk mengatasinya, pemerintah kota melakukan patroli selama 24 jam guna mengidentifikasi, mengangkut, dan menutup TPS ilegal tersebut. Warga yang terbukti membuang sampah di lokasi terlarang juga akan dikenakan sanksi hukum. Farhan bahkan menyampaikan terima kasih kepada warga yang aktif melaporkan titik-titik tersebut melalui media sosial, karena laporan semacam itu memudahkan penanganan di lapangan secara bertahap.
Secara keseluruhan, kondisi pascalebaran ini memperlihatkan betapa rapuhnya sistem persampahan kota saat volume naik tajam dalam waktu singkat. Pemkot Bandung kini berusaha mengejar pengolahan hingga 600 ton, menambah kapasitas fasilitas, dan menutup TPS ilegal sambil terus meminta warga ikut mengurangi timbulan dari sumbernya. Jika dua sisi ini berjalan bersama, peluang menurunkan tumpukan akan lebih besar. Kalau tidak, Bandung akan terus menghadapi siklus yang sama: pagi dibersihkan, besoknya datang lagi seolah sampah punya jadwal comeback sendiri.






