Pemerintah Kabupaten Bojonegoro resmi menerima 107 unit armada operasional untuk mendukung mobilitas Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di seluruh wilayah kabupaten. Serah terima kendaraan berlangsung di halaman Kodim 0813 Bojonegoro pada Senin, 30 Maret 2026. Armada tersebut terdiri atas 57 truk dan 50 mobil pikap yang diproyeksikan menjadi tulang punggung distribusi hasil produksi desa ke pasar.
Kehadiran ratusan kendaraan ini tidak diposisikan sekadar sebagai bantuan fisik. Pemerintah daerah melihatnya sebagai bagian dari strategi besar untuk memperkuat ekonomi kerakyatan, terutama di tingkat desa. Selama ini, salah satu hambatan utama yang sering dihadapi petani dan pelaku usaha lokal adalah tingginya biaya logistik yang membuat harga distribusi menjadi tidak efisien.
Bupati Bojonegoro Setyo Wahono meninjau langsung kesiapan armada saat prosesi penerimaan berlangsung. Ia bahkan sempat mencoba salah satu unit pikap Mahindra dan memberi respons singkat yang menunjukkan kepuasannya terhadap performa kendaraan tersebut. Namun di balik momen simbolik itu, pesan yang dibawa cukup jelas: kendaraan ini harus benar-benar bekerja untuk menggerakkan aktivitas ekonomi desa, bukan berhenti sebagai aset pajangan.
Menurut rencana, seluruh armada akan digunakan untuk mengangkut hasil pertanian, produk desa, dan kebutuhan pokok langsung ke tujuan distribusi. Dengan pola seperti ini, desa diharapkan tidak lagi terlalu bergantung pada pihak ketiga dalam rantai pasok. Jika sistem berjalan lancar, koperasi desa akan memiliki posisi tawar yang lebih baik sekaligus ruang yang lebih luas untuk tumbuh secara mandiri.
Setyo Wahono menegaskan bahwa bantuan tersebut diharapkan bisa memaksimalkan potensi desa, terutama dalam menekan ongkos logistik. Efisiensi transportasi menjadi kata kunci karena biaya angkut yang lebih rendah dapat berdampak langsung pada harga, kelancaran suplai, dan keuntungan bagi pelaku usaha lokal. Di desa, urusan truk memang kadang terdengar sederhana, tapi yang dibawa di belakangnya bisa berarti nasib satu musim panen.
Dukungan dari tingkat desa juga datang cukup kuat. Kepala Desa Pesen, Kecamatan Kanor, Agus Saputra, menilai program ini sebagai solusi konkret untuk membantu meningkatkan perekonomian masyarakat sekaligus membuka lapangan kerja baru. Artinya, manfaat armada tidak hanya diukur dari distribusi barang, tetapi juga dari efek turunan yang bisa muncul di sekitar aktivitas operasionalnya.
Senada dengan itu, Ketua KDMP Desa Pesen, Khosip Ikhsan, menyebut keberadaan armada akan sangat membantu kelancaran distribusi hasil pertanian yang selama ini sering terkendala masalah angkutan. Dengan total 382 KDMP yang tersebar di Bojonegoro, dukungan kendaraan operasional semacam ini diharapkan membuat koperasi tidak sekadar aktif di atas kertas, tetapi benar-benar berfungsi sebagai penggerak ekonomi lokal.
Jika dikelola dengan baik, penambahan 107 unit armada ini bisa menjadi langkah penting untuk menghubungkan potensi desa dengan pasar secara lebih efisien. Bagi Bojonegoro, program ini bukan hanya soal distribusi barang, melainkan juga upaya membangun desa yang lebih mandiri, produktif, dan punya kemampuan lebih besar untuk mengatur jalannya ekonomi sendiri.






