BYD menyatakan keyakinan tinggi bahwa penjualan kendaraan mereka di pasar internasional dapat melampaui 1,5 juta unit pada 2026. Pernyataan optimistis ini muncul di tengah tekanan yang sedang dihadapi perusahaan di pasar domestik China, mulai dari perang harga hingga penurunan laba yang lebih dalam dari perkiraan.
Dalam pertemuan pascalaporan keuangan terbaru, perwakilan BYD disebut menyampaikan bahwa pasar luar negeri dalam jangka panjang berpotensi menyumbang hingga setengah dari total penjualan perusahaan. Pandangan ini mencerminkan perubahan penting dalam strategi global produsen mobil listrik terbesar di China tersebut. Jika dulu pasar ekspor lebih bersifat pelengkap, kini perannya mulai diangkat sebagai mesin pertumbuhan utama.
Pada Januari 2026, BYD menetapkan target ekspor sekitar 1,3 juta kendaraan untuk tahun ini. Angka itu sebenarnya lebih rendah dibanding ekspektasi 1,6 juta unit yang sempat dibagikan kepada Citi pada November 2025. Namun, sinyal terbaru dari internal perusahaan menunjukkan mereka kini jauh lebih percaya diri, bahkan mengindikasikan peluang untuk menembus 1,5 juta unit atau lebih di pasar internasional.
Momentum ekspansi luar negeri memang menjadi semakin penting. BYD sedang menghadapi tekanan berat di pasar dalam negeri akibat persaingan yang sangat sengit, sementara kebutuhan untuk terus berinvestasi pada teknologi membuat margin laba tergerus. Dalam kondisi seperti ini, pasar luar negeri tampil sebagai ruang bernapas yang lebih luas untuk menjaga laju pertumbuhan. Rumahnya masih besar, tapi kompetisinya sudah sesak. Jadi wajar kalau BYD mulai sering melihat pagar luar.
Salah satu strategi utama yang dipakai untuk mendorong ekspansi adalah lokalisasi produksi. BYD mempercepat pembangunan pabrik di berbagai negara utama, termasuk di Eropa dan Indonesia, yang diperkirakan mulai masuk fase produksi massal pada Maret atau April 2026. Dengan langkah ini, perusahaan berharap dapat memperbesar kapasitas pasokan sekaligus menekan ongkos logistik ke pasar ekspor.
Lokalisasi tersebut juga menjadi cara BYD untuk memperkuat posisi di kawasan Asia, Eropa, hingga Amerika Selatan. Alih-alih hanya mengekspor kendaraan utuh dari China, perusahaan kini ingin lebih dekat dengan pasar tujuan melalui fasilitas produksi lokal. Strategi ini bisa memberi banyak keuntungan, mulai dari efisiensi biaya hingga fleksibilitas menghadapi kebijakan dagang dan preferensi konsumen setempat.
Di tengah ekspansi itu, BYD tetap menegaskan bahwa mereka tidak ingin masuk terlalu jauh ke dalam perang diskon. Fokus perusahaan diarahkan pada teknologi dan inovasi, dengan komitmen menjaga investasi riset dan pengembangan tetap tinggi. Pendekatan ini penting karena di pasar kendaraan listrik, pertumbuhan yang cepat tanpa pembeda teknologi sering berakhir seperti lomba murah-murahan yang sama-sama bikin megap-megap.
Secara keseluruhan, arah yang sedang diambil BYD memperlihatkan bahwa pasar internasional kini dipandang sebagai pilar pertumbuhan jangka panjang. Ketika pasar domestik China makin padat dan penuh tekanan, membawa kendaraan ke luar negeri menjadi salah satu jalur paling realistis untuk menjaga momentum. Jika strategi lokalisasi berhasil dan pasar global tetap responsif, target 1,5 juta unit ekspor pada 2026 bukan lagi terdengar ambisius, melainkan masuk akal untuk dicapai.






