BYD keluar sebagai nama paling menonjol di Bangkok International Motor Show 2026 setelah membukukan jumlah pemesanan kendaraan tertinggi di ajang tersebut. Namun di balik capaian impresif itu, pabrikan asal China ini masih menghadapi satu persoalan penting yang belum benar-benar selesai, yakni soal strategi harga dan kepercayaan konsumen di pasar Thailand.
Secara total, BYD mencatat 17.354 pesanan kendaraan di BIMS 2026. Jika angka dari merek Denza ikut dihitung, jumlahnya meningkat menjadi 18.057 unit. Pencapaian ini menempatkan BYD di posisi teratas dalam volume pemesanan kendaraan pada pameran otomotif tersebut, sekaligus memperkuat citranya sebagai salah satu pemain utama mobil listrik di Thailand.
Menariknya, model yang paling diminati bukan justru produk paling baru, melainkan lini yang sudah lebih dulu dikenal pasar. Atto 3 tercatat meraih 3.565 pesanan, sementara Dolphin mendapatkan 3.250 unit. Di sisi lain, SUV plug-in hybrid Sealion 6 DM-i juga tampil kuat dengan 2.406 pemesanan, menunjukkan bahwa minat pasar terhadap portofolio BYD masih sangat besar meski perusahaan sempat diguncang kritik.
Hasil ini memperlihatkan bahwa daya tarik harga dan kebutuhan konsumen terhadap kendaraan listrik masih memberi ruang besar bagi BYD untuk tumbuh. Dalam konteks harga bahan bakar yang terus meningkat, cukup banyak konsumen tampaknya memilih kembali menimbang mobil listrik China selama penawaran produknya dianggap menarik. Artinya, sebagian pelanggan masih bersedia “memaafkan” gejolak masa lalu jika manfaat ekonominya terasa nyata.
Namun di sinilah letak dilema yang sedang dihadapi BYD. Keberhasilan mencatat pemesanan tinggi juga berarti ekspektasi konsumen ikut naik. Jika perusahaan kembali mengulang strategi diskon dalam yang terlalu agresif seperti sebelumnya, kepercayaan yang sempat pulih justru bisa kembali terganggu. Pasar akan melihat BYD bukan sebagai merek dengan nilai yang stabil, melainkan sebagai produsen yang mudah mengguncang harga sendiri.
Masalah ini menjadi semakin sensitif karena jumlah pesanan di pameran belum tentu mencerminkan jumlah penjualan riil dan kendaraan yang benar-benar terdaftar. Dalam banyak kasus, selisih antara pesanan dan penjualan aktual bisa mencapai sekitar 30 persen akibat keterlambatan pengiriman, pembiayaan yang tidak disetujui, atau konsumen yang akhirnya beralih ke merek lain. Jadi, angka besar di panggung pameran memang terlihat mengesankan, tetapi belum otomatis berarti kemenangan final di jalan raya.
Di BIMS 2026, BYD juga meluncurkan empat model baru, yakni Atto 1, Atto 2, Seal 6, dan Sealion 5 dengan berbagai pilihan mesin. Langkah ini memperlihatkan bahwa mereka tetap agresif memperkuat portofolio. Namun pelajarannya tidak hanya berlaku bagi BYD, melainkan juga bagi banyak produsen China lain yang terlalu sering mengandalkan strategi harga untuk memicu permintaan. Kalau harga produk sejak awal tidak dibangun berdasarkan nilai yang realistis, merek bisa terjebak dalam siklus diskon yang justru melemahkan kepercayaan pasar.
Dengan kata lain, sukses di BIMS 2026 memberi BYD dua hal sekaligus: peluang besar dan ujian besar. Mereka masih memimpin dalam hal perhatian dan pemesanan, tetapi posisi itu belum sepenuhnya aman. Jika strategi harga tidak segera dibuat lebih konsisten dan lebih sehat, pasar Thailand bisa kembali memberi respons negatif. Dalam persaingan yang makin ketat, terutama dari sesama merek China dan produsen Jepang yang mulai beradaptasi lebih cepat, BYD tidak cukup hanya menang di pameran. Mereka juga harus memastikan konsumen percaya bahwa harga dan nilai produknya tidak akan berubah-ubah seenaknya. :contentReference[oaicite:2]{index=2}






