Lamborghini mulai memberi sinyal bahwa mereka sedang mempertimbangkan kebangkitan segmen grand tourer. CEO Lamborghini Stephan Winkelmann menilai merek Italia itu saat ini kehilangan model coupe dua pintu berkonfigurasi 2+2 dalam portofolionya. Di tengah fokus perusahaan pada elektrifikasi dan performa, ia melihat ada satu ruang kosong yang bisa diisi oleh mobil grand tourer mewah yang tetap punya DNA Lamborghini.
Pernyataan itu menarik karena datang setelah perusahaan memutuskan membatalkan rencana pengembangan kendaraan listrik murni berbasis konsep Lanzador. Lamborghini masih melanjutkan ide elektrifikasi, tetapi mereka tidak ingin terburu-buru masuk ke EV penuh sebelum 2030. Pendekatan ini menunjukkan bahwa merek tersebut memilih jalan yang lebih hati-hati, sambil terus menilai arah pasar dan respons pelanggan terhadap mobil listrik performa tinggi.
Menurut Winkelmann, Lamborghini tidak tertarik mengembangkan sedan atau SUV kecil di masa depan. Yang justru dirasa kurang adalah grand tourer dua pintu dengan konfigurasi 2+2. Model seperti itu bisa menjadi kendaraan empat tempat duduk yang lebih nyaman untuk perjalanan jauh, namun tetap mewah dan tetap menyimpan karakter emosional khas Lamborghini. Ini akan menjadi jembatan antara supercar ekstrem dan SUV praktis seperti Urus.
Gagasan menghadirkan grand tourer sebenarnya bukan sesuatu yang sepenuhnya baru bagi Lamborghini. Pada Paris Motor Show 2014, mereka pernah memperkenalkan konsep hybrid Asterion LPI 910-4 dengan karakter grand tourer. Namun proyek itu akhirnya dibatalkan karena perusahaan memilih memusatkan sumber daya ke pengembangan Urus. Kini, lebih dari satu dekade kemudian, ide serupa kembali muncul, hanya dalam konteks pasar dan strategi yang berbeda.
Jika benar diwujudkan, model baru ini kemungkinan tidak akan langsung menjadi EV murni. Pilihan yang lebih realistis adalah mesin pembakaran internal atau plug-in hybrid. Jalur seperti itu memberi Lamborghini ruang untuk tetap masuk ke arah masa depan tanpa harus langsung melepaskan elemen yang selama ini membuat mobil mereka terasa hidup, mulai dari respons mesin, suara, hingga sensasi mekanis yang sulit digantikan sepenuhnya oleh elektrifikasi murni.
Dari sudut pandang bisnis, kehadiran grand tourer juga akan memperluas wilayah kompetisi Lamborghini. Mereka bisa menantang model seperti Ferrari Roma, Aston Martin DB12, atau varian mewah performa tinggi dari Bentley. Ini segmen yang berbeda dari perang supercar atau duel SUV premium, karena konsumen di sini mencari kombinasi antara performa, kenyamanan, dan gaya hidup touring yang lebih santai namun tetap eksklusif.
Menariknya lagi, segmen ini punya akar sejarah bagi Lamborghini. Grand tourer terakhir yang benar-benar diproduksi massal oleh merek itu adalah Lamborghini Jarama, yang dibuat antara 1970 hingga 1976 dengan total hanya 327 unit. Jadi, bila Lamborghini benar-benar menghidupkan kembali formula 2+2 ini, langkah tersebut bukan sekadar menambah model baru, tetapi juga menghubungkan masa depan merek dengan salah satu bab lamanya yang sudah lama tertutup.
Secara keseluruhan, pernyataan CEO Lamborghini menunjukkan bahwa masa depan perusahaan tidak hanya ditentukan oleh kapan mereka masuk penuh ke mobil listrik, tetapi juga oleh bagaimana mereka menyusun kembali identitas produknya. Grand tourer bisa menjadi jawaban atas kebutuhan itu: lebih fleksibel dari supercar, lebih emosional dari SUV, dan mungkin cukup nyaman untuk dipakai jauh tanpa membuat penumpang merasa sedang ikut tes ketahanan mental.






