China Prediksi 9,5 Miliar Perjalanan Musim Semi, Rekor Migrasi Imlek

Avatar photo

- Penulis Berita

Senin, 16 Februari 2026 - 13:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Imlek (Freepik)

Ilustrasi Imlek (Freepik)

China memperkirakan jumlah perjalanan domestik pada musim semi tahun ini akan menembus rekor baru. Selama periode 40 hari yang dikenal sebagai puncak mobilitas menjelang dan sesudah libur Tahun Baru Imlek, otoritas setempat memproyeksikan sekitar 9,5 miliar perjalanan, naik dibanding tahun lalu.

Musim mobilitas ini disebut dimulai pada 2 Februari dan berlangsung selama 40 hari. Angka 9,5 miliar dipandang sebagai lonjakan signifikan dari proyeksi sebelumnya sekitar 9,02 miliar perjalanan pada periode yang sama tahun lalu, menandakan pemulihan aktivitas perjalanan yang kian kuat.

Perubahan metode penghitungan turut memengaruhi statistik. Sejak 2023, Kementerian Transportasi China menyesuaikan cara mencatat perjalanan libur Imlek dengan memasukkan seluruh perjalanan darat pada jalan raya utama. Akibatnya, total perjalanan yang tercatat meningkat tajam dibanding era sebelumnya yang lebih fokus pada moda tertentu.

Di China, fenomena ini sering disebut sebagai “migrasi musim semi”, salah satu perpindahan manusia terbesar di dunia. Ratusan juta orang pulang ke kampung halaman untuk merayakan Imlek bersama keluarga, sekaligus memanfaatkan libur panjang untuk wisata domestik maupun perjalanan lintas kota.

Data per moda memperlihatkan besarnya skala. Pada 2 Februari, kereta api China disebut mengangkut sekitar 1,01 miliar penumpang. Sementara itu, penumpang pesawat pada 8 Februari tercatat mencapai 16,32 juta, dan total perjalanan udara selama 40 hari diperkirakan menyentuh 95 juta penumpang.

Perusahaan agen perjalanan besar di China juga melihat tren yang menarik: wisata internasional meningkat pada tahun ini. Salah satu pemicunya adalah durasi libur yang lebih panjang, karena ada tambahan satu hari sehingga total hari libur menjadi 9, membuat rencana perjalanan ke luar negeri terasa lebih memungkinkan.

Untuk wisata domestik, permintaan terbagi menjadi dua arus besar. Pertama, destinasi tropis yang bisa dicapai lewat penerbangan, seperti Pulau Hainan, yang menjadi pelarian dari musim dingin. Kedua, destinasi olahraga musim dingin, seperti kawasan pegunungan di timur laut, yang menawarkan salju dan aktivitas outdoor.

Tujuan wisata luar negeri yang disebut populer mencakup Thailand dan Australia. Rusia juga mulai terlihat sebagai opsi baru setelah kebijakan masuk bebas visa bagi wisatawan China diberlakukan mulai Desember 2025. Kebijakan semacam ini biasanya berpengaruh besar karena mengurangi friksi administratif dan biaya perjalanan.

Di sisi lain, beberapa destinasi lama mengalami penurunan minat. Jepang, misalnya, disebut anjlok pada tahun ini di tengah relasi bilateral yang menegang. Ini menunjukkan bahwa faktor geopolitik dan sentimen publik bisa langsung memengaruhi arus wisata, bahkan ketika infrastruktur perjalanan sudah terbentuk.

Bagi pemerintah, lonjakan perjalanan berarti pekerjaan besar di belakang layar: menjaga kelancaran transportasi, mengurangi kemacetan, dan mencegah bottleneck di stasiun serta bandara. Koordinasi jadwal kereta, kapasitas penerbangan, hingga manajemen arus kendaraan darat menjadi kunci agar libur panjang tidak berubah menjadi krisis logistik.

Di level masyarakat, rekor perjalanan juga menggambarkan perubahan perilaku pascapandemi: orang makin berani merencanakan perjalanan jauh, mengalokasikan anggaran wisata, dan memanfaatkan libur untuk bertemu keluarga. Bila proyeksi 9,5 miliar perjalanan benar-benar tercapai, musim semi tahun ini akan menjadi penanda kuat bahwa mobilitas China memasuki fase yang lebih agresif dibanding beberapa tahun terakhir.

Berita Terkait

Krisis Minyak Global Pacu Adopsi Mobil Listrik dan Evaluasi Subsidi Kendaraan
Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan Distribusi Energi dan Pengenaan Tarif Kapal
Negara Barat dan Aliansi NATO Tetapkan Status Siaga Tinggi Hadapi Ketegangan Global
Amerika Serikat Terancam Kehabisan Stok Senjata Akibat Konflik Global yang Berkepanjangan
Rusia dan Negara Strategis Ubah Kebijakan Ekonomi Serta Militer Hadapi Gejolak Dunia
Hari Malaria Sedunia 25 April Kembali Soroti Tantangan Kesehatan Global Terbaru
Israel Tetap Serang Lebanon Meski Kesepakatan Gencatan Senjata Mulai Berlaku
Palestina Gelar Pemilu Lokal Perdana Pasca Perang di Tengah Ketegangan Tinggi

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 19:33 WIB

Krisis Minyak Global Pacu Adopsi Mobil Listrik dan Evaluasi Subsidi Kendaraan

Sabtu, 25 April 2026 - 18:05 WIB

Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan Distribusi Energi dan Pengenaan Tarif Kapal

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Negara Barat dan Aliansi NATO Tetapkan Status Siaga Tinggi Hadapi Ketegangan Global

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Amerika Serikat Terancam Kehabisan Stok Senjata Akibat Konflik Global yang Berkepanjangan

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Rusia dan Negara Strategis Ubah Kebijakan Ekonomi Serta Militer Hadapi Gejolak Dunia

Berita Terbaru

Alternatif Bahan Bakar Selain

Berita

Alternatif Bahan Bakar Selain Pertamina Dex Terbaru 2026

Senin, 4 Mei 2026 - 20:42 WIB