Honda mencatat prestasi penting di pasar Amerika Serikat setelah dinobatkan sebagai produsen mobil paling hemat bahan bakar di antara merek yang tidak hanya menjual kendaraan listrik. Pencapaian ini tercatat dalam Automotive Trends Report 2025 yang dirilis Badan Perlindungan Lingkungan AS (EPA).
Berdasarkan data kendaraan model tahun 2024 yang dipakai dalam laporan tersebut, rata-rata efisiensi bahan bakar Honda mencapai sekitar 13,18 km/liter. Angka ini berada di atas rata-rata industri yang tercatat di kisaran 11,56 km/liter, sehingga menempatkan Honda di posisi terdepan untuk kategori produsen non-EV murni.
Dominasi Honda makin terasa karena hanya segelintir merek yang mampu melampaui rata-rata industri. Hyundai berada di posisi kedua dengan sekitar 12,67 km/liter, lalu Kia di urutan ketiga dengan 12,41 km/liter. Setelah itu, Toyota, Nissan, dan BMW berbagi posisi dengan rata-rata sekitar 12,33 km/liter.
Beberapa merek lain juga masih berada di atas rerata industri, seperti Subaru dan Mazda. Di sisi berbeda, sejumlah pabrikan besar justru mencatat konsumsi bahan bakar lebih tinggi daripada rata-rata, termasuk Volkswagen, Mercedes-Benz, Ford, General Motors, hingga Stellantis. Data ini menunjukkan gap efisiensi antarmerek masih cukup lebar.
EPA juga menyoroti peningkatan Honda dalam periode lima tahun terakhir. Jika dibandingkan data sebelumnya, efisiensi rata-rata Honda mengalami kenaikan yang berarti, menandakan adanya perbaikan berkelanjutan pada mesin, transmisi, dan strategi elektrifikasi parsial seperti hybrid pada lini produknya.
Meski demikian, posisi Honda sebagai juara perlu dibaca dalam konteks kategori. Jika kendaraan listrik murni dimasukkan ke dalam perbandingan menggunakan metrik MPGe (miles per gallon equivalent), Tesla tetap unggul jauh karena seluruh produknya berbasis listrik. Dalam hitungan MPGe, Tesla mencatat angka rata-rata yang sangat tinggi.
MPGe sendiri adalah satuan yang dikembangkan EPA untuk membandingkan efisiensi kendaraan berbahan bakar alternatif dengan mobil bensin. Standarnya mengacu pada kesetaraan energi 1 galon bensin dengan 33,7 kWh listrik. Karena itu, mobil listrik kerap terlihat “jauh lebih irit” dalam pengukuran ini.
Namun, bagi konsumen yang masih mempertimbangkan kendaraan non-EV, capaian Honda sangat relevan. Penghargaan ini menunjukkan bahwa pabrikan tersebut berhasil menekan konsumsi bahan bakar tanpa harus sepenuhnya bergantung pada mobil listrik murni. Dalam kondisi pasar yang transisinya masih bertahap, strategi seperti ini justru menarik bagi banyak pembeli.
Laporan EPA juga mengingatkan bahwa persaingan efisiensi kini tidak hanya soal ukuran mesin, tetapi juga gabungan teknologi hybrid, manajemen pembakaran, aerodinamika, dan pengurangan bobot kendaraan. Dengan hasil terbaru ini, Honda memperkuat citranya sebagai merek yang konsisten menawarkan efisiensi untuk penggunaan harian di pasar AS.






