Federasi sepak bola Iran disebut membuka kemungkinan tidak berpartisipasi di Piala Dunia 2026 setelah eskalasi konflik besar yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Pernyataan ini muncul di tengah situasi politik-keamanan yang sangat tegang dan berdampak luas pada berbagai sektor, termasuk olahraga.
Presiden Asosiasi Sepak Bola Iran (FFIRI), Mehdi Taj, menyampaikan bahwa kondisi saat ini membuat perjalanan menuju Piala Dunia menjadi sangat sulit. Meski demikian, ia juga menegaskan bahwa keputusan akhir tetap berada di tangan otoritas olahraga yang berwenang.
Iran sebenarnya sudah mengamankan tiket ke Piala Dunia 2026 setelah menjadi juara grup di kualifikasi Asia. Secara teknis, tim nasional mereka sudah masuk dalam perencanaan turnamen, termasuk pengaturan kamp latihan dan kemungkinan skenario pertandingan di fase grup.
Dalam laporan yang beredar, Iran ditempatkan di Grup G bersama Belgia, Selandia Baru, dan Mesir. Sejumlah laga grup disebut akan dimainkan di kota-kota Amerika Serikat, yang menambah kompleksitas mengingat situasi geopolitik dan pembatasan perjalanan yang berlaku.
Eskalasi konflik menjadi pemicu utama ketidakpastian ini. Setelah serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran, situasi memburuk cepat dengan serangan balasan Iran berupa rudal dan drone ke target Israel serta pangkalan AS di kawasan Timur Tengah.
Perkembangan tersebut membuat FIFA dikabarkan mulai menilai dampaknya terhadap penyelenggaraan turnamen. Sekretaris Jenderal FIFA menyatakan bahwa masih terlalu dini untuk berkomentar detail, tetapi organisasi akan terus memantau situasi dengan tujuan menghadirkan Piala Dunia yang aman untuk semua peserta.
Selain isu keamanan, faktor pembatasan perjalanan ke Amerika Serikat juga menjadi tantangan tersendiri bagi Iran. Bahkan jika tim nasional tetap tampil, mobilitas pendukung dari Iran disebut berpotensi sangat terbatas karena aturan perjalanan yang ketat.
Dalam konteks Piala Dunia 2026 yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko dengan format 48 tim, isu keamanan dan logistik menjadi lebih sensitif daripada edisi sebelumnya. Beberapa tim mungkin bisa bermain fase grup di Kanada atau Meksiko, tetapi laga gugur berpotensi mengarah ke AS.
Ancaman Iran untuk mundur menunjukkan bagaimana konflik geopolitik dapat menjalar langsung ke panggung olahraga global. Untuk saat ini, status partisipasi Iran masih bergantung pada perkembangan politik, keamanan, dan keputusan regulator sepak bola internasional dalam waktu mendatang.






