Ketua Umum PDI Perjuangan, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan posisi politik partainya yang tetap berada di luar pemerintahan dalam pertemuan dengan Putra Mahkota Abu Dhabi, Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan. Pertemuan berlangsung di Istana Kepresidenan Qasr Al Watan, Uni Emirat Arab, pada Rabu waktu setempat.
Dalam dialog tersebut, Megawati tidak hanya membahas hubungan bilateral Indonesia dengan Uni Emirat Arab, tetapi juga menyinggung dinamika politik domestik Indonesia. Ia menjelaskan bahwa meskipun memiliki hubungan pribadi yang baik dengan Presiden Prabowo Subianto, PDIP memilih jalur independen secara politik.
Menurut penjelasan yang disampaikan melalui keterangan resmi partai, Megawati menegaskan bahwa hubungan personal dengan Presiden Prabowo sudah terjalin lama. Keduanya disebut memiliki visi besar mengenai pembangunan Indonesia, bahkan dalam keseharian mereka menggunakan sapaan akrab sebagai bentuk persahabatan.
Namun demikian, Megawati menekankan bahwa kedekatan pribadi tidak serta-merta memengaruhi sikap politik partai. PDIP tetap memilih berada di luar kabinet pemerintahan sebagai bentuk kontrol demokrasi.
Ia menjelaskan bahwa posisi tersebut bertujuan menjaga mekanisme check and balance dalam sistem politik Indonesia. Jika kebijakan pemerintah dinilai berpihak pada kepentingan rakyat, partai akan memberikan dukungan. Sebaliknya, apabila terdapat kebijakan yang perlu dikritisi, PDIP akan menyampaikan masukan secara konstruktif.
Dalam kesempatan yang sama, Megawati juga memaparkan sistem ketatanegaraan Indonesia kepada Putra Mahkota Abu Dhabi. Ia menjelaskan bahwa Indonesia menganut sistem presidensial, sehingga istilah oposisi tidak sepenuhnya tepat digunakan seperti dalam sistem parlementer.
Menurutnya, dalam sistem presidensial, posisi partai politik lebih tepat disebut berada di dalam atau di luar pemerintahan, bukan oposisi formal. Penjelasan tersebut disampaikan untuk memberikan gambaran mengenai dinamika demokrasi Indonesia kepada pihak internasional.
Sheikh Khaled Bin Mohamed Bin Zayed Al Nahyan disebut memberikan respons positif terhadap penjelasan tersebut. Ia menghargai sikap politik yang diambil PDIP dan memahami konteks sistem politik Indonesia.
Pertemuan itu juga dihadiri sejumlah tokoh PDIP, termasuk Prananda Prabowo, Nancy Prananda, serta beberapa pejabat partai dan perwakilan diplomatik Indonesia.
Selain membahas politik domestik, dialog kedua pihak turut menyinggung hubungan strategis Indonesia dan Uni Emirat Arab, termasuk potensi kerja sama ekonomi, investasi, dan diplomasi regional.
Langkah komunikasi politik seperti ini dinilai penting untuk memperkuat hubungan internasional sekaligus menunjukkan posisi politik partai secara transparan kepada mitra global.






