Ketika membahas ledakan taksi listrik, banyak orang langsung menunjuk China. Padahal, di luar China ada sejumlah negara dan kota yang juga bergerak sangat cepat mengadopsi armada taksi berbasis listrik, bahkan di beberapa wilayah tingkat penggunaannya mendekati penuh.
Salah satu contoh paling menonjol adalah Norwegia. Negara Nordik ini sudah lama dikenal sebagai pionir transisi kendaraan listrik, dan dampaknya terlihat jelas pada sektor transportasi layanan, termasuk taksi. Kebijakan pemerintah yang konsisten membuat ekosistem kendaraan listrik tumbuh sangat matang.
Dalam laporan yang dirujuk, hampir seluruh armada taksi di Norwegia kini berbasis listrik, dari total sekitar 13.000 unit. Percepatan itu tidak terjadi tiba-tiba, melainkan karena kombinasi regulasi, insentif fiskal, dan pembangunan infrastruktur pengisian daya yang agresif selama bertahun-tahun.
Pemerintah Norwegia diketahui memberi keringanan besar, termasuk penghapusan pajak pembelian mobil listrik yang nilainya bisa mencapai sekitar 25 persen dari harga kendaraan. Insentif ini membuat biaya kepemilikan armada listrik lebih masuk akal bagi operator taksi.
Selain insentif pembelian, jaringan pengisian daya juga diperluas secara serius. Pemerintah disebut menginvestasikan jutaan euro sejak awal dekade lalu untuk membangun fasilitas pengisian cepat dan super cepat, sehingga jarak antarstasiun menjadi relatif dekat dan operasional taksi lebih efisien.
London di Inggris juga menjadi contoh penting. Kota ini mempercepat transisi lewat kebijakan zona emisi rendah (ULEZ) dan aturan ketat untuk kendaraan layanan. Sejak 2018, taksi di London diwajibkan menggunakan kendaraan yang lebih ramah lingkungan, memaksa operator memperbarui armadanya.
Kebijakan tersebut mendorong perusahaan taksi untuk berinvestasi besar pada kendaraan listrik dan hibrida. Hasilnya, taksi hitam khas London semakin banyak hadir dalam versi elektrifikasi, menjadikan kota ini salah satu pusat pertumbuhan taksi listrik di Eropa.
Belanda juga tak kalah progresif. Lebih dari 30 kota besar telah menerapkan kebijakan yang mendorong taksi listrik, termasuk syarat bahwa kendaraan layanan baru yang didaftarkan harus berupa mobil listrik murni. Di kota wisata seperti Amsterdam, tingkat adopsinya pun sangat tinggi.
Contoh lain datang dari Islandia, khususnya Reykjavik. Di ibu kota negara tersebut, taksi listrik disebut mendominasi armada layanan, sejalan dengan kebijakan yang membatasi taksi berbahan bakar bensin dan diesel di kawasan perkotaan serta area wisata.
Pelajaran utamanya jelas: booming taksi listrik bukan hanya soal siapa yang paling banyak memproduksi EV, tetapi siapa yang paling konsisten menyusun kebijakan, membangun infrastruktur, dan memberi kepastian bagi operator. Kalau aturannya jelas, sopir tak perlu pusing—yang pusing justru pom bensin.






