Olimpiade Musim Dingin Milan-Cortina 2026 menghadirkan salah satu drama terbesar di arena skating artistik putra. Ilia Malinin, atlet Amerika Serikat yang dijuluki “The God of Four Rounds Rotating” karena reputasinya pada lompatan quad, justru mengalami malam yang pahit pada free skate dan merosot tajam di klasemen.
Sebelumnya, setelah program singkat pada 10 Februari, Malinin berada di posisi puncak dengan 108,16 poin. Kondisi makin menguntungkan ketika rival utama, Yuma Kagiyama, melakukan kesalahan pada free skate malam 13 Februari. Secara teori, Malinin bahkan tidak wajib mengambil risiko terbesar seperti quad axel untuk menjaga peluang emas.
Namun, panggung Olimpiade sering punya cara sendiri untuk “mengguncang” perhitungan. Free skate Malinin dimulai cukup meyakinkan lewat quad flip yang nyaris sempurna dan mendarat stabil, menjadi fondasi ideal untuk program yang dirancang padat dengan tujuh elemen quad.
Momentum yang paling dinanti datang saat ia bersiap melakukan quad axel—lompatan empat setengah putaran yang membuat namanya istimewa. Atmosfer stadion seperti menahan napas. Tetapi alih-alih mengeksekusi, Malinin menghentikan gerakan di tengah dan menurunkannya menjadi single axel. Dari potensi basis nilai 12,50 (belum bonus teknis), ia hanya memperoleh sedikit di atas satu poin.
Itu menjadi retakan awal. Ia sempat bangkit dengan quad lutz yang berhasil, tetapi rangkaian berikutnya tidak stabil. Quad loop yang seharusnya empat putaran turun menjadi dua putaran, dan kombinasi quad lutz dengan triple flip runtuh ketika ia jatuh di atas es.
Di paruh kedua program, masalah belum selesai. Quad salchow berakhir dengan “tangan menyentuh es” saat mendarat. Dari tujuh quad yang direncanakan, ia hanya menyelesaikan tiga dengan bersih—angka yang sangat jauh dari standar pribadinya sebagai atlet yang sering menembus total sekitar 330 poin di kompetisi lain.
Akumulasi kesalahan membuat nilai teknisnya berhenti di 76,61, disebut lebih rendah dari sang juara hingga lebih dari 38 poin. Skor free skate 156,33 menyeretnya dari kandidat kuat menjadi peringkat kedelapan overall dengan 264,49 poin—sekitar 70 poin di bawah catatan terbaiknya sendiri.
Ironisnya, bila melihat komponen artistik, Malinin tidak benar-benar kalah jauh. Nilai komponen programnya hanya terpaut sekitar dua poin dari pemenang. Masalah utama ada pada lompatan: dalam sistem penilaian modern, quad yang bersih memberi keuntungan besar, sementara downgrade dan jatuh bisa “menghapus” puluhan poin dalam hitungan detik.
Penerima manfaat terbesar justru Mikhail Shaidorov dari Kazakhstan. Berangkat dari posisi kelima setelah program singkat, ia tampil stabil dan mengumpulkan 291,58 poin untuk merebut emas—bahkan disebut sebagai gelar juara Olimpiade pertama negaranya di cabang skating artistik. Kagiyama meraih perak, sedangkan Shun Sato membawa pulang perunggu untuk Jepang.
Usai lomba, Malinin mengakui aspek mental menjadi faktor berat. Ia menggambarkan atmosfer Olimpiade sangat berbeda dari turnamen lain dan mengisyaratkan bahwa tekanan panggung terbesar di dunia itu memengaruhi pengambilan keputusan serta eksekusi. Di Milan-Cortina, kisahnya menjadi pengingat: status favorit tidak selalu cukup, karena empat menit di atas es bisa mengubah segalanya.






