Pemerintah Kota Bandung melaporkan sejumlah capaian pembangunan infrastruktur strategis dalam satu tahun terakhir. Di bawah kepemimpinan Wali Kota Bandung Muhammad Farhan, percepatan pembangunan dilakukan lewat kolaborasi dengan pemerintah pusat, DPRD, serta berbagai pemangku kepentingan, dengan target utama meningkatkan kenyamanan dan keselamatan warga.
Fokus paling mudah terlihat ada pada penerangan. Berdasarkan data yang disampaikan, Pemkot Bandung membangun 501 tiang Penerangan Jalan Umum (PJU). Angka ini menunjukkan upaya memperkuat keamanan dan visibilitas di ruas-ruas yang membutuhkan lampu jalan yang memadai.
Selain PJU, ada pula realisasi 4.106 titik Penerangan Jalan Lingkungan (PJL) yang tersebar di berbagai wilayah kota. Penerangan di lingkungan permukiman dinilai berperan penting karena menyentuh aktivitas warga pada malam hari, termasuk akses gang, jalan kecil, dan area fasilitas publik setempat.
Di sektor hunian, program Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) menjadi salah satu prioritas yang menyasar kelompok rentan. Sepanjang 2025, sekitar 2.100 unit Rutilahu dilaporkan telah tertangani. Program ini disebut berjalan melalui kolaborasi lintas sektor dan dukungan berbagai pihak, sehingga tidak bertumpu pada satu sumber daya saja.
Pemkot juga menggarap infrastruktur jalan demi memperbaiki konektivitas antarwilayah. Tercatat 29,52 kilometer jalan mengalami perbaikan, yang bertujuan meningkatkan kualitas akses, mengurangi titik rawan kecelakaan, sekaligus memperlancar mobilitas harian warga.
Untuk mengurai kemacetan, proyek Flyover Nurtanio turut didorong agar pembangunannya dapat dipercepat. Kawasan tersebut selama ini dikenal padat pada jam-jam tertentu, sehingga flyover dianggap sebagai solusi struktural untuk memperbaiki arus lalu lintas.
Tak kalah mencolok adalah penataan kabel udara. Pemkot Bandung melaporkan penataan kabel sepanjang 23,5 kilometer. Selain untuk memperindah wajah kota, penataan kabel juga dikaitkan dengan aspek keselamatan, mengingat kabel semrawut bisa memicu risiko teknis, terutama saat cuaca ekstrem.
Di luar “infrastruktur keras”, revitalisasi ruang publik dan penguatan Ruang Terbuka Hijau (RTH) juga masuk agenda. Pendekatan ini menunjukkan pembangunan tidak hanya soal beton dan aspal, tetapi juga soal kualitas hidup, ruang sosial, serta keseimbangan lingkungan di perkotaan.
Dalam unggahan resmi di Instagram @humas_bandung pada Sabtu, 14 Februari 2026, Pemkot menegaskan bahwa capaian tersebut tidak sekadar deret angka. Pesan utamanya: infrastruktur diukur dari dampaknya pada kenyamanan dan keselamatan warga, bukan hanya dari jumlah proyek yang selesai.
Salah seorang warga yang menanggapi capaian pembangunan juga mengingatkan pentingnya peran masyarakat. Ia berharap tanggung jawab menjaga lingkungan tidak sepenuhnya dibebankan pada pemerintah saja, melainkan perlu keterlibatan warga agar fasilitas yang dibangun tetap terawat dan manfaatnya berkelanjutan.
Dengan rangkaian capaian ini, Pemkot Bandung berharap kolaborasi pembangunan terus berjalan untuk mewujudkan kota yang lebih tertata, nyaman, dan aman. Tantangannya berikutnya bukan hanya membangun, tetapi memastikan pemeliharaan, pemerataan manfaat, dan koordinasi antar pihak tetap konsisten.






