Pemkot Bandung Kejar Pengolahan Sampah hingga 600 Ton Pascalebaran

Avatar photo

- Penulis Berita

Sabtu, 28 Maret 2026 - 11:48 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Pemerintah Kota Bandung sedang berpacu menangani lonjakan sampah yang terjadi setelah Lebaran. Peningkatan timbulan yang cukup besar membuat proses pengangkutan dan pengolahan harus dikejar setiap hari agar tumpukan tidak semakin meluas. Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menyebut volume sampah sejak H-1 hingga H+4 Lebaran naik sekitar 20 persen, dari kisaran normal 1.500 ton per hari menjadi sekitar 1.800 ton per hari.

Kenaikan ini membuat kondisi di lapangan cukup berat. Penumpukan harian masih terus terjadi, bahkan saat sampah sudah diangkut pada pagi hari, sore atau keesokan paginya tumpukan baru kembali muncul. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa masalah yang dihadapi bukan sekadar soal distribusi truk, tetapi tekanan volume yang datang lebih cepat daripada kemampuan sistem menguranginya.

Menurut Farhan, dari total sampah yang dikirim untuk diolah, saat ini sekitar 500 hingga 600 ton masih terus dikejar proses pengolahannya setiap hari. Besarnya timbulan menyebabkan pengurangan tumpukan belum bisa dilakukan secara signifikan. Artinya, beban utama bukan hanya membersihkan yang terlihat di jalan, tetapi juga mengejar kapasitas pengolahan agar aliran sampah tidak macet di tengah sistem.

Untuk menanggulangi situasi itu, Pemkot Bandung sedang menambah kapasitas pengolahan melalui beberapa metode. Di antaranya adalah gasifikasi, insinerator, dan pengolahan sampah organik. Sejumlah titik pengolahan difokuskan di kawasan Ciwastra dan Gedebage. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah kota tidak ingin hanya memindahkan sampah dari satu lokasi ke lokasi lain, tetapi mencoba memperbesar kemampuan menyelesaikan masalah dari hulunya.

Namun, Farhan menegaskan bahwa pemulihan kondisi tidak akan cukup jika hanya mengandalkan pemerintah. Ia menyebut keadaan akan kembali normal jika warga ikut menekan timbulan sampah dari rumah masing-masing. Pesan ini terasa penting karena dalam masalah persampahan, volume dari sumber selalu menentukan seberapa besar tekanan ke sistem kota. Mesin boleh ditambah, patroli boleh dikerahkan, tapi kalau rumah tangga tetap produksi sampah seperti sedang lomba, ya kota pasti megap-megap juga.

Selain lonjakan volume sampah biasa, Pemkot Bandung juga menyoroti maraknya tempat pembuangan sampah ilegal yang memperburuk situasi. Saat ini tercatat sekitar 60 titik TPS ilegal yang menjadi perhatian serius. Menurut Farhan, lokasi-lokasi ini tidak akan dibiarkan karena berarti pembiaran terhadap pelanggaran hukum dan pencemaran lingkungan. Dengan kata lain, persoalannya bukan hanya soal kotor, tetapi juga soal ketertiban kota.

Untuk mengatasinya, pemerintah kota melakukan patroli selama 24 jam guna mengidentifikasi, mengangkut, dan menutup TPS ilegal tersebut. Warga yang terbukti membuang sampah di lokasi terlarang juga akan dikenakan sanksi hukum. Farhan bahkan menyampaikan terima kasih kepada warga yang aktif melaporkan titik-titik tersebut melalui media sosial, karena laporan semacam itu memudahkan penanganan di lapangan secara bertahap.

Secara keseluruhan, kondisi pascalebaran ini memperlihatkan betapa rapuhnya sistem persampahan kota saat volume naik tajam dalam waktu singkat. Pemkot Bandung kini berusaha mengejar pengolahan hingga 600 ton, menambah kapasitas fasilitas, dan menutup TPS ilegal sambil terus meminta warga ikut mengurangi timbulan dari sumbernya. Jika dua sisi ini berjalan bersama, peluang menurunkan tumpukan akan lebih besar. Kalau tidak, Bandung akan terus menghadapi siklus yang sama: pagi dibersihkan, besoknya datang lagi seolah sampah punya jadwal comeback sendiri.

Berita Terkait

Alternatif Bahan Bakar Selain Pertamina Dex Terbaru 2026
Daya Beli Warga Kota Besar Menurun UMKM Keluhkan Kenaikan Biaya Produksi
Kasus ISPA dan Demam Melonjak Akibat Cuaca Buruk Pemerintah Imbau Pola Sehat
Kegiatan Sekolah dan Ujian Nasional Berjalan Normal di Tengah Dinamika Global
Digitalisasi Pendidikan dan Evaluasi Kurikulum Mulai Diterapkan di Sejumlah Daerah
Kecelakaan Kendaraan Pribadi di Jalur Antar Kota Meningkat Pengendara Wajib Waspada
Kenaikan Harga BBM Non Subsidi Mulai Berlaku di Tengah Fluktuasi Pangan
Hari Malaria Sedunia 25 April Kembali Soroti Tantangan Kesehatan Global Terbaru

Berita Terkait

Senin, 4 Mei 2026 - 20:42 WIB

Alternatif Bahan Bakar Selain Pertamina Dex Terbaru 2026

Sabtu, 25 April 2026 - 19:19 WIB

Daya Beli Warga Kota Besar Menurun UMKM Keluhkan Kenaikan Biaya Produksi

Sabtu, 25 April 2026 - 19:19 WIB

Kasus ISPA dan Demam Melonjak Akibat Cuaca Buruk Pemerintah Imbau Pola Sehat

Sabtu, 25 April 2026 - 19:19 WIB

Kegiatan Sekolah dan Ujian Nasional Berjalan Normal di Tengah Dinamika Global

Sabtu, 25 April 2026 - 19:18 WIB

Digitalisasi Pendidikan dan Evaluasi Kurikulum Mulai Diterapkan di Sejumlah Daerah

Berita Terbaru

Alternatif Bahan Bakar Selain

Berita

Alternatif Bahan Bakar Selain Pertamina Dex Terbaru 2026

Senin, 4 Mei 2026 - 20:42 WIB