Bangkok International Motor Show 2026 menunjukkan bahwa pasar otomotif Thailand sedang bergerak ke arah yang semakin kompetitif. Setelah tujuh hari pertama pameran, penyelenggara mencatat total 41.778 pesanan kendaraan, sebuah angka yang memperlihatkan tingginya daya beli konsumen. Di tengah ramainya minat pasar itu, Toyota untuk sementara masih memimpin, tetapi tekanan dari merek-merek China terlihat semakin kuat.
Pameran otomotif ke-47 yang digelar di kompleks Challenger Hall 1–3, Muang Thong Thani, memang sejak lama dikenal sebagai salah satu ajang terbesar di Asia Tenggara. Namun edisi 2026 terasa lebih menarik karena peta kekuatannya terlihat berubah. Toyota tetap berada di posisi teratas dengan 5.672 pesanan, jauh di depan pesaing lainnya, tetapi dominasi lama merek Jepang kini jelas mulai terusik.
Di belakang Toyota, nama-nama dari China langsung menempati papan atas. MG berada di posisi kedua dengan 4.217 kendaraan, disusul Omoda & Jaecoo dengan 3.984 unit. Changan bersama Deepal dan Nevo mencatat 3.828 pesanan, sementara Geely menutup lima besar dengan 3.213 kendaraan. Susunan ini memperlihatkan bahwa merek China tidak lagi sekadar numpang lewat, tetapi sudah menekan dengan serius di jantung pasar Thailand.
Selain empat nama besar itu, pabrikan China lain juga tampil cukup solid. Chery mencatat 2.588 pesanan, Great Wall Motor 2.581 unit, dan GAC Group sebanyak 2.489 kendaraan. Artinya, penetrasi mereka tidak hanya datang dari satu atau dua merek, melainkan dari banyak pemain sekaligus. Jika tren seperti ini berlanjut, Thailand bisa menjadi salah satu contoh paling jelas tentang bagaimana dominasi lama di Asia Tenggara mulai bergeser.
Sementara itu, produsen Jepang lain masih mampu bertahan, meski jarak mereka dengan merek China semakin tipis. Honda mencatat 2.479 unit, Mazda 2.123 unit, dan Isuzu 1.888 unit. Hasil ini memang masih tergolong stabil, tetapi tekanan dari para pesaing baru terlihat makin nyata. Di pasar seperti Thailand yang dulu sangat akrab dengan nama-nama Jepang, perubahan seperti ini jelas bukan kabar kecil.
Yang juga menarik adalah munculnya merek-merek listrik baru seperti Riddara dengan 1.160 kendaraan, Zeekr 909 unit, Xpeng 834 unit, dan Avatr 784 unit. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa konsumen Thailand makin terbuka terhadap kendaraan listrik murni. Jadi, bukan hanya soal merek China versus Jepang, tetapi juga soal pergeseran selera pasar dari kendaraan konvensional menuju elektrifikasi yang makin terasa.
Di sisi lain, sejumlah merek lain seperti Ford, Nissan, Hyundai, dan Kia mencatat pesanan yang lebih rendah. Sementara itu, beberapa nama besar seperti Mercedes-Benz, BMW, Audi, Tesla, dan BYD belum merilis angka sementara karena memilih menunggu penutupan pameran untuk mengumumkan hasil akhirnya. Jadi, klasemen ini memang belum benar-benar final, tetapi cukup kuat untuk menggambarkan arah persaingan yang sedang terbentuk.
Secara keseluruhan, paruh pertama Bangkok Motorshow 2026 memberi sinyal kuat bahwa pasar otomotif Thailand sedang mengalami perubahan besar. Toyota memang masih memimpin, tetapi tekanan dari merek-merek China, terutama di segmen listrik dan hybrid, semakin terasa. Kalau momentum ini bertahan hingga akhir acara pada 5 April, pameran tahun ini bisa menjadi penanda penting bahwa keseimbangan kekuatan otomotif Asia Tenggara mulai bergeser secara nyata.






