Trump Isyaratkan Pajak Tarif Tak Dikembalikan, Risiko Gugatan 175 Miliar

Avatar photo

- Penulis Berita

Sabtu, 21 Februari 2026 - 19:32 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Trump Awasi Negosiasi Iran

Trump Awasi Negosiasi Iran

Polemik tarif global di Amerika Serikat memasuki babak baru setelah putusan Mahkamah Agung menyatakan kebijakan tarif luas Presiden Donald Trump bertentangan dengan hukum. Alih-alih menenangkan pelaku usaha, pernyataan Trump justru memicu kekhawatiran baru soal potensi sengketa panjang.

Dalam konferensi pers di Gedung Putih pada 20 Februari, Trump menyampaikan ketidakpuasan terhadap keputusan tersebut. Ia juga tidak memberi komitmen jelas terkait pengembalian dana yang sebelumnya sudah dibayarkan perusahaan sebagai bagian dari tarif.

Menurut sejumlah laporan media, Trump menekankan bahwa jika memang ada tuntutan pengembalian, prosesnya kemungkinan harus melewati litigasi bertahun-tahun. Ia menilai persoalan itu tidak akan selesai cepat dan bisa berkembang menjadi rangkaian persidangan berlapis.

Pernyataan bernada tegas itu juga diiringi kritik terhadap putusan Mahkamah Agung yang diputus dengan komposisi 6-3. Trump menyebut putusan tersebut buruk dan cacat, serta menyiratkan pemerintah akan mencari jalur hukum lain untuk mempertahankan penerimaan dari tarif, bukan fokus pada penggantian.

Trump bahkan menggambarkan potensi perkara ini bisa berjalan panjang. Ia menyebut kemungkinan litigasi dua tahun ke depan, dan dalam jawaban lain menyinggung risiko perdebatan di pengadilan hingga lima tahun jika isu pengembalian dana dibawa terus.

Mahkamah Agung sebelumnya menyatakan penggunaan Undang-Undang Kekuatan Ekonomi Darurat Internasional (IEEPA) untuk menerapkan tarif skala luas berada di luar wewenang. Namun, putusan itu tidak langsung memutuskan apakah perusahaan otomatis berhak atas pengembalian dana, sehingga ruang sengketa tetap terbuka.

Dari sisi pelaku usaha, gelombang gugatan sudah menumpuk. Analisis Bloomberg menyebut lebih dari 1.500 perusahaan telah mengajukan tuntutan terkait tarif, dengan skenario besar yang dipertaruhkan: apakah mereka pada akhirnya berhak mendapatkan uang kembali atau tidak.

Jika pengadilan akhir memutuskan pemerintah wajib mengembalikan dana, angka yang beredar diperkirakan mencapai sekitar US$175 miliar. Jumlah itu disebut lebih dari setengah total pendapatan yang sebelumnya dikumpulkan melalui tarif, sehingga dampaknya bisa terasa pada neraca fiskal federal.

Di tengah tekanan tersebut, Trump tampak memilih strategi “bertahan” melalui instrumen hukum lain. Sejumlah laporan menyebut pemerintah akan berupaya menjaga sumber pendapatan, sekaligus membiarkan jalur pengembalian dana menjadi sengketa yang diproses lama.

Situasi ini membuat hubungan pemerintah dan bisnis berpotensi memanas. Bagi perusahaan, ketidakpastian soal pengembalian dana berarti risiko arus kas dan perencanaan biaya meningkat; sementara bagi pemerintah, potensi kewajiban US$175 miliar menjadi ancaman serius jika kalah di meja hijau.

Dengan konteks itu, banyak pihak memandang putusan Mahkamah Agung bukan akhir cerita, melainkan awal dari pertarungan baru. Arah kebijakan tarif, kepastian hukum, dan nasib miliaran dolar yang sudah terkumpul kini sangat bergantung pada proses pengadilan berikutnya.

Berita Terkait

Krisis Minyak Global Pacu Adopsi Mobil Listrik dan Evaluasi Subsidi Kendaraan
Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan Distribusi Energi dan Pengenaan Tarif Kapal
Negara Barat dan Aliansi NATO Tetapkan Status Siaga Tinggi Hadapi Ketegangan Global
Amerika Serikat Terancam Kehabisan Stok Senjata Akibat Konflik Global yang Berkepanjangan
Rusia dan Negara Strategis Ubah Kebijakan Ekonomi Serta Militer Hadapi Gejolak Dunia
Hari Malaria Sedunia 25 April Kembali Soroti Tantangan Kesehatan Global Terbaru
Israel Tetap Serang Lebanon Meski Kesepakatan Gencatan Senjata Mulai Berlaku
Palestina Gelar Pemilu Lokal Perdana Pasca Perang di Tengah Ketegangan Tinggi

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 19:33 WIB

Krisis Minyak Global Pacu Adopsi Mobil Listrik dan Evaluasi Subsidi Kendaraan

Sabtu, 25 April 2026 - 18:05 WIB

Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan Distribusi Energi dan Pengenaan Tarif Kapal

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Negara Barat dan Aliansi NATO Tetapkan Status Siaga Tinggi Hadapi Ketegangan Global

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Amerika Serikat Terancam Kehabisan Stok Senjata Akibat Konflik Global yang Berkepanjangan

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Rusia dan Negara Strategis Ubah Kebijakan Ekonomi Serta Militer Hadapi Gejolak Dunia

Berita Terbaru

Alternatif Bahan Bakar Selain

Berita

Alternatif Bahan Bakar Selain Pertamina Dex Terbaru 2026

Senin, 4 Mei 2026 - 20:42 WIB