Presiden Amerika Serikat Donald Trump melontarkan kritik keras kepada sejumlah negara sekutu yang dinilainya tidak antusias mendukung rencana pengawalan kapal tanker minyak di Selat Hormuz. Pernyataan itu disampaikan di Gedung Putih pada 16 Maret, ketika Washington terus berupaya menggalang dukungan internasional untuk mengamankan salah satu jalur energi terpenting di dunia.
Trump mengatakan beberapa negara menunjukkan sikap sangat mendukung, tetapi ada pula yang dianggap dingin dan enggan terlibat. Ia menyinggung bahwa sejumlah negara telah lama dilindungi Amerika Serikat dari ancaman eksternal, namun ketika diminta berpartisipasi dalam misi ini, respons mereka justru jauh dari kata bersemangat. Bahasa diplomatiknya tipis, nadanya jelas: bantuan itu ternyata tidak selalu berbalas antusiasme.
Presiden AS mendorong pengiriman kapal perang untuk mengawal kapal tanker melalui Selat Hormuz, jalur yang mengangkut sekitar 20 persen minyak dan gas alam cair dunia. Meski demikian, ia belum menyebut negara mana saja yang sudah menyatakan kesiapan bergabung, dan hanya mengatakan daftar tersebut akan diumumkan di lain waktu. Menurut Trump, ada negara yang bahkan sudah mulai bersiap berangkat menuju kawasan.
Namun hingga kini, upaya Washington membangun koalisi belum membuahkan hasil sesuai harapan. Sejumlah sekutu utama dilaporkan belum memberikan komitmen, bahkan ada yang secara terbuka menolak. Trump menyebut situasi ini ironis, mengingat Amerika selama bertahun-tahun menempatkan puluhan ribu personel militer untuk menjaga keamanan negara-negara mitranya.
Dalam pernyataannya, Trump mencontohkan bahwa ketika Amerika meminta bantuan spesifik seperti penyapu ranjau, beberapa negara langsung menolak ikut bergabung. Ia juga menggambarkan operasi pengawalan di Selat Hormuz sebagai persoalan yang seharusnya sederhana, meski di lapangan beberapa kapal tanker telah terkena serangan dan situasi kawasan semakin memanas akibat konflik Timur Tengah yang sudah memasuki pekan ketiga.
Perang di kawasan telah membuat Selat Hormuz nyaris sepenuhnya diblokade. Kondisi ini memicu lonjakan harga energi dan menambah kekhawatiran mengenai inflasi global. Di sisi lain, banyak sekutu AS menganggap diri mereka tidak diajak berkonsultasi sebelum kampanye udara terhadap Iran dijalankan, sehingga mereka menanggung dampak ekonomi dan politik tanpa merasa menjadi bagian dari pengambilan keputusan awal.
Jepang, Jerman, Spanyol, dan Italia termasuk negara yang menyatakan tidak memiliki rencana mengirim kapal untuk membantu membuka kembali jalur tersebut. Kanselir Jerman Friedrich Merz bahkan menegaskan bahwa konflik di Timur Tengah berakar pada serangan AS-Israel terhadap Iran, dan menekankan bahwa operasi tersebut tidak terkait NATO serta bukan bagian dari perang aliansi Atlantik Utara itu.
Pernyataan Trump memperlihatkan frustrasi lama yang kembali muncul dalam pola hubungan Amerika dengan sekutu-sekutunya. Ia berulang kali mengkritik kebiasaan AS melindungi negara lain tanpa mendapatkan dukungan setara saat Washington membutuhkan bantuan. Dalam konteks krisis Hormuz, ketegangan itu kini tampil lebih terbuka: bukan hanya soal keamanan maritim, tetapi juga soal seberapa jauh solidaritas sekutu benar-benar berlaku ketika situasi menjadi sulit.






