Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengklaim pasukan AS telah menghancurkan seluruh target militer di Pulau Kharg, wilayah strategis Iran yang selama puluhan tahun dikenal sebagai pusat ekspor minyak utama negara tersebut. Pernyataan itu ia sampaikan lewat akun Truth Social pada 13 Maret 2026.
Menurut Trump, serangan yang dilakukan Komando Pusat Amerika Serikat atau CENTCOM termasuk salah satu operasi udara paling kuat dalam sejarah Timur Tengah. Ia menyebut semua sasaran militer di pulau yang ia gambarkan sebagai “permata Iran” berhasil dilumpuhkan sepenuhnya.
Meski demikian, Trump menegaskan bahwa Amerika belum menghancurkan infrastruktur minyak di Pulau Kharg. Ia mengaku menahan diri untuk tidak menyasar fasilitas energi itu “karena alasan yang baik”, namun mengingatkan bahwa keputusan tersebut bisa berubah sewaktu-waktu jika Iran atau pihak lain mengganggu lalu lintas kapal secara bebas dan aman melalui Selat Hormuz.
Pernyataan tersebut muncul di tengah kekhawatiran global terhadap dampak perang Iran pada jalur energi dunia. Pulau Kharg memiliki posisi sangat vital bagi perekonomian Iran. Lokasinya berada di Teluk Persia, sekitar 25 kilometer dari daratan Iran, dan telah menjadi pusat ekspor minyak terbesar negara itu selama lebih dari setengah abad.
Meski luasnya hanya sekitar 20 kilometer persegi, fasilitas di Kharg memiliki kapasitas memproses hingga 7 juta barel minyak per hari. Sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran disebut melewati pulau tersebut, dengan sebagian besar pengiriman ditujukan ke pasar Asia, terutama China. Karena itu, Kharg sering dianggap sebagai salah satu urat nadi ekonomi Iran.
Sebelumnya, media AS sempat melaporkan bahwa pemerintahan Trump mempertimbangkan opsi merebut pulau strategis itu di tengah konflik Timur Tengah yang terus memanas. Para analis sudah lama mengingatkan bahwa serangan terhadap Kharg berpotensi memicu pembalasan keras dari Iran, termasuk gangguan lebih besar di Selat Hormuz atau serangan terhadap infrastruktur energi lain di kawasan.
Sampai berita ini muncul, para pejabat Iran belum memberikan tanggapan resmi atas klaim Trump. Namun skala ancaman yang disampaikan Washington membuat perhatian dunia tertuju pada kemungkinan eskalasi lanjutan, terutama jika serangan terhadap Pulau Kharg benar-benar mengganggu aliran ekspor energi regional. Dalam peta konflik, ini bukan lagi sekadar titik kecil di laut, tapi tombol merah yang bisa bikin pasar global ikut tegang.
Dengan kondisi perang yang belum mereda, pernyataan Trump soal Pulau Kharg menambah tekanan baru pada stabilitas kawasan dan pasar energi dunia. Jika langkah militer terus meluas ke fasilitas strategis seperti ini, maka dampaknya tidak hanya dirasakan Iran atau Amerika Serikat, tetapi bisa merembet jauh ke harga minyak, pasokan global, dan ekonomi banyak negara.






