WHO Konfirmasi Kematian Akibat Virus Nipah di Bangladesh, Diduga Terkait Konsumsi Nira Kurma Segar

Avatar photo

- Penulis Berita

Minggu, 8 Februari 2026 - 09:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Ilustrasi Virus (Freepik)

Ilustrasi Virus (Freepik)

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengonfirmasi satu kematian akibat infeksi virus Nipah di Bangladesh utara. Korban disebut seorang perempuan berusia sekitar 40 tahun yang mengalami demam dan kejang, lalu meninggal setelah kondisi memburuk dalam waktu singkat.

Berdasarkan kronologi yang dirilis, gejala awal berupa demam dan sakit kepala muncul sejak 21 Januari. Dalam beberapa hari berikutnya, kondisi pasien memburuk dengan keluhan peningkatan air liur, disorientasi, hingga kejang sebelum akhirnya meninggal sekitar sepekan kemudian.

Hasil pemeriksaan laboratorium yang keluar setelah pasien wafat menyatakan positif virus Nipah. Penyelidikan epidemiologi juga menyebut pasien tidak memiliki riwayat perjalanan ke luar negeri sebelum jatuh sakit.

Temuan lapangan mengarah pada kebiasaan lokal konsumsi nira kurma segar. Jalur paparan ini kerap dikaitkan dengan makanan atau minuman yang terkontaminasi limbah kelelawar buah yang membawa patogen.

Otoritas kesehatan setempat memantau 35 orang yang tercatat pernah melakukan kontak dengan pasien. Sampai pembaruan terakhir, seluruh sampel dari kelompok tersebut dilaporkan negatif dan belum ada penambahan kasus baru.

Seusai laporan di Bangladesh serta adanya kabar infeksi lain di wilayah sekitar sejak awal Januari, sejumlah negara di Asia disebut meningkatkan kewaspadaan. Meski begitu, WHO menilai risiko penularan lintas negara masih rendah dan belum merekomendasikan pembatasan perjalanan atau perdagangan.

Virus Nipah dikenal dapat berawal dari gejala yang tampak umum seperti demam, sakit kepala, dan muntah, tetapi dapat berkembang cepat menjadi gangguan saraf, kejang, hingga koma. Penularannya biasanya terkait kontak erat dengan sekresi atau ekskresi pasien, serta paparan dari hewan pembawa, sehingga pencegahan menekankan pada kewaspadaan terhadap sumber paparan dan protokol kesehatan yang ketat.

Virus ini pertama kali terdeteksi pada 1999 di Malaysia dan Singapura, dengan dampak besar pada kesehatan publik dan peternakan. Hingga kini, belum ada obat khusus maupun vaksin berlisensi untuk mencegah infeksi Nipah.

Berita Terkait

Krisis Minyak Global Pacu Adopsi Mobil Listrik dan Evaluasi Subsidi Kendaraan
Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan Distribusi Energi dan Pengenaan Tarif Kapal
Negara Barat dan Aliansi NATO Tetapkan Status Siaga Tinggi Hadapi Ketegangan Global
Amerika Serikat Terancam Kehabisan Stok Senjata Akibat Konflik Global yang Berkepanjangan
Rusia dan Negara Strategis Ubah Kebijakan Ekonomi Serta Militer Hadapi Gejolak Dunia
Hari Malaria Sedunia 25 April Kembali Soroti Tantangan Kesehatan Global Terbaru
Israel Tetap Serang Lebanon Meski Kesepakatan Gencatan Senjata Mulai Berlaku
Palestina Gelar Pemilu Lokal Perdana Pasca Perang di Tengah Ketegangan Tinggi
Tag :

Berita Terkait

Sabtu, 25 April 2026 - 19:33 WIB

Krisis Minyak Global Pacu Adopsi Mobil Listrik dan Evaluasi Subsidi Kendaraan

Sabtu, 25 April 2026 - 18:05 WIB

Krisis Selat Hormuz Picu Gangguan Distribusi Energi dan Pengenaan Tarif Kapal

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Negara Barat dan Aliansi NATO Tetapkan Status Siaga Tinggi Hadapi Ketegangan Global

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Amerika Serikat Terancam Kehabisan Stok Senjata Akibat Konflik Global yang Berkepanjangan

Sabtu, 25 April 2026 - 18:04 WIB

Rusia dan Negara Strategis Ubah Kebijakan Ekonomi Serta Militer Hadapi Gejolak Dunia

Berita Terbaru

Alternatif Bahan Bakar Selain

Berita

Alternatif Bahan Bakar Selain Pertamina Dex Terbaru 2026

Senin, 4 Mei 2026 - 20:42 WIB