Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan (Menko Kumham Imipas), Yusril Ihza Mahendra, menyampaikan duka cita atas wafatnya Wakil Presiden ke-6 RI Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno pada Senin, 2 Maret 2026. Dalam pernyataannya, Yusril menilai bangsa Indonesia kehilangan sosok militer sekaligus negarawan yang bersahaja dan teguh dalam prinsip.
Yusril menggambarkan almarhum sebagai tokoh yang penuh ketulusan dalam mengabdi kepada negara. Ia menekankan bahwa kepergian Try Sutrisno bukan hanya kehilangan bagi keluarga, tetapi juga kehilangan figur teladan bagi publik yang mengenal kiprah panjangnya di dunia militer dan pemerintahan.
Dalam keterangan tertulisnya, Yusril turut mengenang hubungan personal yang sudah terjalin lama dengan almarhum, bahkan sejak awal dekade 1980-an. Kedekatan itu, menurutnya, semakin terasa ketika ia bertugas di Sekretariat Negara pada 1993 dan memiliki kesempatan berinteraksi lebih intens dengan Try Sutrisno.
Ia mengingat almarhum sebagai pribadi yang ramah dan menghargai generasi yang lebih muda. Kesan tersebut membekas karena, dalam pengalaman Yusril, Try Sutrisno selalu menunjukkan sikap terbuka dan menghormati orang lain, termasuk mereka yang saat itu masih berada di awal perjalanan karier.
Yusril juga menyoroti kesederhanaan hidup almarhum sebagai salah satu warisan karakter yang paling kuat. Dalam berbagai diskusi dan interaksi, ia melihat Try Sutrisno sebagai figur yang tidak berlebihan dalam gaya hidup, tetapi kukuh dalam menjaga prinsip-prinsip kebangsaan dan konstitusi.
Menurut Yusril, komitmen almarhum terhadap masa depan negara dan konstitusi menjadi teladan yang patut dikenang. Try Sutrisno dinilai tidak hanya hadir sebagai tokoh formal, tetapi juga sebagai pribadi yang konsisten menjaga nilai pengabdian dan integritas selama hidupnya.
Informasi yang disampaikan menyebutkan bahwa Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno wafat dalam usia 90 tahun di RSPAD Gatot Subroto. Almarhum dijadwalkan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata pada hari yang sama, sebagai penghormatan atas jasa-jasanya bagi bangsa dan negara.
Di akhir pernyataannya, Yusril memanjatkan doa agar Allah SWT menerima seluruh amal ibadah almarhum, mengampuni segala khilaf, dan menempatkannya di tempat terbaik. Ucapan ini sekaligus menjadi penutup penghormatan atas sosok yang dikenangnya sebagai figur sederhana namun teguh pendirian.
Pernyataan Yusril memperlihatkan bahwa warisan Try Sutrisno tidak hanya tercatat dalam jabatan dan sejarah resmi, tetapi juga dalam kesan personal dari mereka yang pernah bekerja dan berdialog dengannya. Kesederhanaan, ketulusan, dan keteguhan menjadi tiga nilai yang paling menonjol dalam kenangan tersebut.






