Fenomena lubang raksasa yang muncul di Kampung Pondok Balik, Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, terus melebar dan memicu kekhawatiran warga. Perkembangannya disebut terjadi relatif cepat, bahkan mengancam akses jalan serta area permukiman dan lahan masyarakat di sekitar lokasi.
Badan Geologi Kementerian ESDM menilai fenomena tersebut menyerupai sinkhole, tetapi menjelaskan bahwa karakter geologinya tidak sepenuhnya sama dengan sinkhole yang lazim terjadi di kawasan karst. Salah satu alasan yang disorot adalah wilayah Aceh Tengah yang dikenal didominasi material vulkanik dengan karakter lebih padat dibanding daerah batuan kapur.
Secara umum, sinkhole sering dikaitkan dengan pelarutan dan erosi pada material yang mudah terpengaruh air, seperti lempung, lanau, atau pasir lepas, serta batuan kapur. Namun pada konteks Ketol, pembentukan rongga bawah tanah tetap dapat dipengaruhi air, terutama ketika aliran air bawah permukaan menjadi aktif.
Prosesnya biasanya berlangsung perlahan, berupa pengikisan material halus atau pelarutan mineral tertentu hingga membentuk rongga. Ketika rongga semakin besar dan tidak lagi mampu menopang beban di atasnya, permukaan tanah dapat runtuh secara tiba-tiba.
Faktor cuaca ekstrem di akhir tahun lalu juga disebut dapat mempercepat proses tersebut. Curah hujan tinggi membuat infiltrasi air meningkat, sehingga aliran air bawah tanah menjadi lebih agresif dan berpotensi melemahkan daya dukung tanah yang sebelumnya tampak stabil.
Dalam pembaruan terakhir yang disebutkan, luas area terdampak telah melampaui 30.000 meter persegi dan ruas jalan penghubung Aceh Tengah–Bener Meriah dilaporkan ikut amblas. Pemerintah pusat dan daerah melakukan peninjauan serta pemantauan, sekaligus mengingatkan warga agar tetap waspada karena kondisi di bawah permukaan dinilai masih dinamis.
Riwayat longsoran di lokasi itu disebut sudah terjadi sejak awal 2000-an, berkembang bertahap, dan pernah memutus akses jalan pada tahun-tahun sebelumnya. Tercatat pula adanya relokasi warga di area sekitar pada periode 2013–2014 setelah risiko dinilai meningkat.






